MDMC dan Lazismu Perkuat Respons Gempa Flores, Posko dan Layanan Kesehatan Diaktifkan

MDMC dan Lazismu Perkuat Respons Gempa Flores, Posko dan Layanan Kesehatan Diaktifkan
MDMC bersama Lazismu memperkuat respons kemanusiaan pascagempa yang mengguncang wilayah Flores, NTT, Sabtu (15/8/2026). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bersama Lazismu memperkuat respons kemanusiaan pascagempa yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).

Respons dilakukan melalui pengaktifan pos koordinasi dan pos pelayanan, mobilisasi relawan, asesmen kebutuhan penyintas, hingga penyediaan layanan kesehatan di sejumlah wilayah terdampak.

Gempa yang dilaporkan berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut berdampak pada sejumlah kabupaten di Flores. Laporan situasi yang dikutip dalam bahan MDMC menyebut wilayah terdampak meliputi Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Manggarai, Ende, Sikka, dan Ngada.

Data korban dalam bahan awal MDMC mencatat 40 orang meninggal dunia, 50 orang luka-luka, dan sekitar 2.000 orang mengungsi. Namun, angka tersebut bersifat sementara dan perlu diberi penanda waktu karena data korban terus berubah selama proses pencarian, evakuasi, dan verifikasi.

Sejumlah laporan media pada hari yang sama juga menunjukkan angka korban yang berbeda seiring pembaruan data. Laporan situasi pada Sabtu sore, misalnya, mencatat 40 orang meninggal dan 50 luka-luka, sementara pembaruan berikutnya melaporkan jumlah korban meninggal kembali bertambah. 

Muhammadiyah Aktifkan Posko di Flores

Untuk memperkuat koordinasi dan pelayanan, Muhammadiyah mengaktifkan Pos Koordinasi di Klinik Muhammadiyah Ende, Jalan Mahoni, Kelurahan Kotaratu, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende.

Sementara itu, Pos Pelayanan Muhammadiyah di Manggarai Timur diaktifkan di SMK Muhammadiyah Manggarai Timur, Pota, Kecamatan Sambi Rampas.

Kedua titik tersebut menjadi bagian dari jaringan respons Muhammadiyah untuk memantau kondisi penyintas, melakukan asesmen kebutuhan, serta mengoordinasikan bantuan sesuai perkembangan situasi di lapangan.

Pengaktifan pos pelayanan Muhammadiyah di Manggarai Timur juga telah diberitakan dalam laporan perkembangan respons MDMC pada 16 Agustus 2026. 

Selain mengaktifkan posko, MDMC melakukan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), jejaring relawan lokal, dan pihak terkait lainnya.

Layanan Kesehatan Mulai Bergerak

Dukungan kesehatan juga menjadi bagian dari respons awal. Di Mbay, Kabupaten Nagekeo, layanan kesehatan dilakukan tim Klinik Utama Muhammadiyah Ende yang terdiri atas satu dokter dan dua perawat.

Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Muhammadiyah juga menyiapkan dukungan tambahan melalui tim kesehatan dari PKU Muhammadiyah Bima, Nusa Tenggara Barat, serta RS Muhammadiyah Lamongan, Jawa Timur.

Di Manggarai Timur, relawan Muhammadiyah turut mendistribusikan makanan siap saji kepada penyintas. MDMC Jawa Timur juga menyiapkan dua unit mobil rescue dan satu unit dapur umum untuk memperkuat pelayanan kemanusiaan.

Langkah tersebut dilakukan seiring masih berlangsungnya asesmen dan verifikasi dampak gempa di berbagai lokasi.

Respons Melibatkan Jejaring Muhammadiyah

Respons kemanusiaan tidak hanya dilakukan oleh MDMC Pimpinan Pusat. Sejumlah unsur Muhammadiyah di daerah turut dilibatkan, antara lain MDMC NTT, MDMC Ende, MDMC Manggarai Timur, MDMC Sikka, MDMC Manggarai, Klinik Utama Muhammadiyah Ende, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Universitas Muhammadiyah Maumere.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut diarahkan untuk mempercepat pemantauan kondisi masyarakat, asesmen kebutuhan, pelayanan kesehatan, distribusi bantuan, serta koordinasi respons di wilayah terdampak.

Gempa Flores sendiri terjadi pada Sabtu (15/8/2026) dan dilaporkan berkekuatan M7,7. Sejumlah wilayah mengalami kerusakan serta gangguan akses akibat dampak gempa dan longsor. Operasi pencarian, pertolongan, dan pendataan masih berlangsung sehingga angka korban dan dampak bencana masih dapat berubah. 

Melalui jaringan relawan dan fasilitas Muhammadiyah yang telah tersedia di sejumlah daerah, MDMC dan Lazismu berkomitmen melanjutkan respons sesuai kebutuhan penyintas serta perkembangan kondisi di lapangan.