Milad Ke-68 UMS, Haedar Nashir Ungkap Kunci Sukses Muhammadiyah Bangun Peradaban Unggul
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menekankan krusialnya menjaga identitas keorganisasian (organizational identity) dan merawat etos Islam berkemajuan sebagai motor penggerak Persyarikatan dalam membangun peradaban bangsa yang unggul melampaui zaman.
Pesan strategis tersebut disampaikan Haedar Nashir saat memberikan amanat utama dalam puncak Peringatan Milad ke-68 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Gedung Edutorium K.H. Ahmad Dahlan UMS, Surakarta, Jawa Tengah, pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Di hadapan ribuan sivitas akademika dan pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA), Haedar mengkritisi serta mengomparasikan konsep perkembangan peradaban Barat dengan fondasi gerakan kemajuan yang dibangun oleh Muhammadiyah.
Mengutip karya sosiolog Steven Pinker dalam buku Enlightenment Now (2018), Haedar memaparkan bahwa kemajuan peradaban Barat modern bertumpu pada akumulasi empat pilar utama, yakni rasio (akal budi), sains, humanisme, dan progres.
“Steven membahas tentang peradaban barat modern yang dibangun di atas empat pilar utama. Satu, rasio atau kerja otak dan akal budi, kemudian yang kedua sains, ketiga humanism, dan kemudian itulah yang melahirkan faktor keempat yaitu progress, kemajuan,” jelas Haedar Nashir di Surakarta, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Namun demikian, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah menempuh jalan yang khas. Alih-alih bertumpu pada budaya serapan sekuler, kemajuan Muhammadiyah yang berkelanjutan dibangun berlandaskan identitas organisasi yang kokoh, sebagaimana teori yang dirumuskan oleh Stuart Albert dan David Whetten (1985).
“Bahwa organisasi bangsa itu dibangun di atas identitas. Kita harus mengetahui siapa kita dan akan berbuat apa kita dengan karakter yang kita miliki,” tegas Haedar.
Oleh karena itu, Haedar mengingatkan agar identitas keorganisasian Muhammadiyah senantiasa berakar kuat pada karakter Islam berkemajuan yang memosisikan agama sebagai Dinul Hadarah (agama peradaban) yang inklusif dan mencerahkan.
Ia memungkas amanatnya dengan mengajak seluruh keluarga besar Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, serta institusi PTMA di seluruh Indonesia untuk terus memupuk spirit peradaban tersebut agar seluruh amal usaha Persyarikatan konsisten tumbuh ke tingkat terbaik.
“Spirit membangun peradaban, spirit membangun kemajuan, spirit yang selalu melahirkan etos kemajuan. Itulah yang membuat kita maju. Selama kita bisa merawat itu, maka insya Allah Muhammadiyah dan seluruh PTMA, serta amal usahanya akan terus tumbuh maju, berkembang, berkemajuan dan unggul ke tingkat yang terbaik,” pungkas Haedar.
