Muhadjir: Amal Usaha Muhammadiyah Cerminan Tauhid dan Cinta kepada Allah

Muhadjir: Amal Usaha Muhammadiyah Cerminan Tauhid dan Cinta kepada Allah
Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy dalam Pengajian Ramadan 1447 Hijriah PP Muhammadiyah yang digelar di UMY, Ahad (22/2/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menegaskan bahwa puncak kecintaan kepada Allah Swt. adalah kesediaan menyedekahkan harta yang paling dicintai di jalan Tuhan. Dalam konteks Muhammadiyah, spirit tersebut diwujudkan melalui pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Pernyataan itu disampaikan Muhadjir dalam Pengajian Ramadan 1447 Hijriah PP Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahad (22/2/2026).

Mengutip Surah Al-Insan ayat 8, Muhadjir menjelaskan bahwa manifestasi tauhid seorang Muslim tidak berhenti pada keyakinan, tetapi tercermin dalam kerelaan berbagi kepada fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan.

“Muhammadiyah saya lihat kemauan untuk melakukan itu sangat tinggi. Kita sering mengorbankan sesuatu dari diri kita yang sebetulnya itu bukan karena kita tidak butuh. Kita sebetulnya butuh, masih memerlukan, tapi kita memang memberikan apa yang kita masih kita cintai,” kata Muhadjir.

Namun, ia mengingatkan bahwa ajaran Islam juga menekankan prinsip moderasi dalam bersedekah. Berderma tidak boleh dilakukan secara berlebihan hingga menjerumuskan diri pada kesulitan.

“Orang yang berwakaf besar-besaran sampai dia miskin itu sebetulnya tidak sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Yang paling tengah-tengah saja. Jangan terlalu pelit, tapi juga jangan terlalu boros,” ujarnya.

Menurut Muhadjir, sikap pertengahan tersebut menjadi pegangan warga Muhammadiyah dalam mengelola amal kebajikan. Kehadiran AUM, tegasnya, harus menghadirkan kemaslahatan dan kesejahteraan, bukan justru menimbulkan kesengsaraan.

Muhadjir menilai spirit Surah Al-Insan ayat 8 selaras dengan teologi Al-Ma’un yang menjadi fondasi gerakan sosial Muhammadiyah sejak dirintis Kiai Ahmad Dahlan. Teologi ini melandasi pendirian berbagai amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, hingga ekonomi.

Menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, ia mendorong transformasi pemaknaan teologi Al-Ma’un agar tetap relevan. Ia mencontohkan cara Kiai Ahmad Dahlan memaknai konsep yatim secara kontekstual, tidak semata biologis, tetapi juga sosial.

Seorang anak, kata Muhadjir, dapat disebut yatim secara sosial meski masih memiliki orang tua, apabila tidak mendapatkan perhatian dan perlindungan yang semestinya.

Pandangan futuristik dalam memahami pesan Al-Qur’an seperti itu, menurutnya, perlu terus dijaga di lingkungan Muhammadiyah sebagai bagian dari semangat tajdid atau pembaruan.

Ia juga mengingatkan adanya tantangan ideologis terhadap teologi Al-Ma’un, terutama dari kalangan agnostik yang cenderung skeptis terhadap hal-hal gaib. Selain itu, muncul pula pandangan antitesis yang mengakui keberadaan Tuhan tetapi mempersoalkan eksistensi-Nya dengan menganggap agama sebagai sumber konflik.

Di tengah dinamika tersebut, Muhadjir menekankan pentingnya penguatan teologi sosial yang membumi dan relevan dengan kebutuhan umat, sehingga nilai tauhid tidak berhenti sebagai doktrin, melainkan menjadi energi transformasi sosial.

Pengajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah ini menjadi momentum refleksi ideologis sekaligus konsolidasi gerakan dalam memperkuat Amal Usaha Muhammadiyah sebagai wujud nyata cinta kepada Allah dan komitmen membangun masyarakat berkemajuan.