Muhammadiyah Perbarui MoU dengan Ma’had Mohammed VI, Perluas Peluang Studi dan Riset Al-Qur’an
TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah kembali memperkuat jejaring internasional di bidang pendidikan Islam dengan memperbarui Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) bersama Ma’had Mohammed VI Lil Qira’at wa ad-Dirasat al-Qur’aniyyah. Kesepakatan tersebut diharapkan membuka lebih banyak peluang bagi kader Muhammadiyah untuk melanjutkan studi, mengembangkan riset, dan memperluas kolaborasi akademik di bidang ilmu Al-Qur’an.
Penandatanganan MoU berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Jakarta Pusat, Rabu (15/7/2026). Dokumen kerja sama ditandatangani Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni bersama Direktur Ma’had Mohammed VI Lil Qira’at wa ad-Dirasat al-Qur’aniyyah Syaikh Abderrachim Al Amine sebagai pembaruan atas kemitraan yang telah terjalin sebelumnya.
Dalam sambutannya, Syafiq menjelaskan bahwa Ma’had Mohammed VI merupakan institusi pendidikan yang berfokus pada pelestarian, pembelajaran, dan penelitian ilmu-ilmu Al-Qur’an serta qira’at (ragam bacaan Al-Qur’an). Namun, menurutnya, ruang lingkup kajian di lembaga tersebut jauh lebih luas dan mencakup berbagai disiplin ilmu.
“Tentu studi tujuannya tidak hanya studi Quran dalam arti yang sempit, tetapi sangat luas meliputi berbagai macam cabang ilmu pengetahuan,” ujar Syafiq.
Ia mengatakan, kerja sama antara Muhammadiyah dan Ma’had Mohammed VI bukanlah hal baru. Sejumlah program kolaborasi telah berjalan pada periode sebelumnya sehingga pembaruan MoU ini menjadi langkah untuk memperluas kemitraan.
Melalui kesepakatan tersebut, Muhammadiyah berharap semakin banyak mahasiswa yang memperoleh kesempatan belajar di Ma’had Mohammed VI. Selain itu, kedua institusi juga akan memperkuat kerja sama melalui penyelenggaraan seminar, konferensi ilmiah, pertukaran akademik, dan penelitian bersama.
“Mudah-mudahan kerja sama ini semakin membuka peluang dalam pengiriman mahasiswa kita untuk belajar di sana, sekaligus mengembangkan berbagai program akademik seperti seminar, konferensi, hingga penelitian bersama,” jelasnya.
Syafiq menambahkan, penguatan kemitraan internasional merupakan bagian dari strategi internasionalisasi Muhammadiyah dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam. Menurutnya, pengembangan ilmu Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman menjadi salah satu pilar penting yang terus diperkuat Persyarikatan.
Ia menjelaskan, pendidikan Al-Qur’an telah menjadi bagian dari ekosistem ribuan amal usaha Muhammadiyah, mulai dari sekolah, madrasah, perguruan tinggi, hingga masjid yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui kolaborasi tersebut, Muhammadiyah berharap dapat melahirkan lebih banyak ulama, akademisi, dan pendidik yang memiliki kompetensi keilmuan, wawasan global, serta mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan umat Islam di Indonesia maupun dunia.
“Dengan demikian, kerja sama ini merupakan bagian dari ikhtiar Muhammadiyah dalam melahirkan generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. Muhammadiyah akan terus berkomitmen mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus mencetak kader-kader yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” tegas Syafiq.
Pembaruan nota kesepahaman tersebut menegaskan komitmen Muhammadiyah untuk terus membangun kolaborasi strategis dengan berbagai institusi pendidikan Islam di tingkat internasional. Melalui sinergi itu, Muhammadiyah berupaya memperkuat mutu pendidikan keislaman, mendorong inovasi akademik, serta menyiapkan generasi ulama dan intelektual Muslim yang mampu menjawab tantangan zaman dengan berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan.