Muhammadiyah Pilih Budaya yang Sesuai Nilai Islam, Bukan Menolak Tradisi Lokal

Muhammadiyah Pilih Budaya yang Sesuai Nilai Islam, Bukan Menolak Tradisi Lokal
Ketua PP Muhammadiyah, Agung Danarto/ Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto, menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak menolak budaya secara mutlak, melainkan memilah dan memilih budaya yang selaras dengan ajaran Islam. Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan Baitul Arqam Dosen dan Karyawan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Senin (10/11).

Menurut Agung, pandangan Muhammadiyah terhadap budaya berbeda dengan aliran Salafi-Wahabi, yang cenderung menolak budaya lokal maupun Barat dan hanya mengacu pada budaya Arab.

“Padahal perintah membaca atau belajar itu bisa dari mana saja. Semua dipelajari, termasuk dari Barat. Akan tetapi harus dengan bismi rabbikal lazi khalak,” ujarnya.

Agung menjelaskan, Muhammadiyah memandang budaya lokal melalui tiga kategori. Pertama, budaya yang bersumber dari Islam. Kedua, budaya yang tidak bertentangan dan dapat bersesuaian dengan nilai Islam. Ketiga, budaya yang tidak sesuai dengan Islam.

Untuk jenis budaya yang ketiga, lanjutnya, Muhammadiyah memilih pendekatan dakwah yang persuasif dan penuh kasih, bukan konfrontatif.

“Jenis budaya yang tidak sesuai dengan Islam tetap dilakukan perbaikan, bukan langsung ditolak. Sebab dakwah bagi Muhammadiyah harus mendahulukan rahmat, cinta, dan kasih,” tegas Agung.

Ia menambahkan, pendekatan dakwah Muhammadiyah juga berbeda dengan Salafi dalam menerapkan konsep amar ma’ruf nahi munkar. Muhammadiyah memandang bahwa amar ma’ruf harus dijalankan secara individu maupun kelembagaan, karena membangun kebaikan memerlukan kerja sistematis dan kolektif.

“Tidak benar orang mengatakan amar ma’ruf itu lebih mudah dilakukan daripada nahi munkar. Membangun kampus Unismuh Makassar ini mudah? Ibu-ibu ‘Aisyiyah mendirikan TK itu mudah?” ujarnya retoris.

Sementara itu, dalam menjalankan nahi munkar, Muhammadiyah mengedepankan pendekatan kelembagaan dan sistemik, seperti melalui judicial review terhadap kebijakan publik serta menjalin kerja sama dengan aparat keamanan dalam upaya memberantas kemaksiatan secara terukur dan berkeadilan.

Dengan pendekatan ini, Muhammadiyah berupaya menghadirkan dakwah yang cerah, berakal sehat, dan berwawasan kebudayaan, sehingga mampu menjembatani nilai-nilai Islam dengan dinamika kehidupan modern tanpa kehilangan esensi keislamannya.