Siti Aisyah: Ulama Perempuan Jadi Kebutuhan Dakwah Islam Berkemajuan
TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah, Siti Aisyah, menegaskan kehadiran ulama perempuan menjadi kebutuhan penting dalam gerakan dakwah Islam Berkemajuan. Menurutnya, perempuan tidak hanya memiliki hak mempelajari ilmu agama, tetapi juga berperan sebagai penggerak perubahan sosial melalui ilmu, fatwa, dan pendampingan masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Siti Aisyah saat membuka Konferensi dan Silaturahmi Nasional Ulama ‘Aisyiyah di Yogyakarta, Senin (18/5/2026).
Dalam paparannya, Siti Aisyah menjelaskan bahwa tradisi keilmuan perempuan dalam Islam memiliki dasar teologis dan historis yang kuat. Ia mencontohkan bagaimana perempuan pada masa Nabi Muhammad SAW telah diberi ruang untuk belajar, mengajar, dan terlibat dalam dakwah.
Menurutnya, semangat tafaqquh fiddin dalam Surah At-Taubah ayat 122 menunjukkan pentingnya pendalaman ilmu agama dalam kondisi apa pun, termasuk ketika masyarakat menghadapi situasi sulit.
Ia juga menekankan bahwa konsep ulama dalam Al-Qur’an tidak terbatas pada penguasaan ilmu agama semata, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap persoalan kemanusiaan, sosial, sejarah, dan kehidupan masyarakat.
“Perempuan memiliki pengalaman dan perspektif tersendiri dalam menyelesaikan persoalan perempuan dan anak,” ujarnya.
Siti Aisyah menambahkan, Al-Qur’an menempatkan laki-laki dan perempuan dalam posisi setara sebagai bagian dari Ulul Albab atau kalangan cendekiawan. Karena itu, menurutnya, tidak ada alasan membatasi perempuan dalam pengembangan ilmu maupun kepemimpinan keagamaan.
Ia juga mengingatkan sejarah panjang keterlibatan perempuan dalam dakwah Muhammadiyah melalui tokoh-tokoh perempuan seperti Siti Walidah yang aktif membangun pendidikan dan membina masyarakat.
Menurutnya, sejak awal ‘Aisyiyah tumbuh dari tradisi perempuan yang belajar langsung kepada ulama dan kiai Muhammadiyah, kemudian melanjutkan dakwah di tengah masyarakat.
Meski demikian, Siti Aisyah menilai pemikiran dan pandangan ulama perempuan hingga kini masih belum banyak dijadikan rujukan utama di ruang publik. Karena itu, diperlukan penguatan kapasitas dan otoritas keilmuan perempuan.
“Sering kali ulama perempuan belum cukup diperhitungkan, baik tulisan maupun pandangannya,” katanya.
Dalam konteks kaderisasi, ia menjelaskan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah terus mengembangkan sistem pendidikan untuk melahirkan pemimpin, pendidik, dan ulama perempuan melalui lembaga kaderisasi serta pesantren putri di berbagai daerah.
Siti Aisyah juga memaparkan lima karakter utama ulama ‘Aisyiyah, yakni memiliki kesalehan individual dan sosial, mampu menggerakkan masyarakat melalui ilmu dan fatwa, mendalami disiplin ilmu keislaman, menguasai Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, serta memiliki pandangan moderat sesuai prinsip Islam Berkemajuan.
Menurutnya, karakter tersebut penting agar ulama perempuan tidak hanya kuat secara spiritual dan intelektual, tetapi juga mampu menjawab tantangan sosial dan keagamaan di era modern.