Pandangan Keagamaan Wasathiyah sebagai Jaga Harmoni dan Toleransi antar Umat
Ketua LDK PP Muhammadiyah, Muchamad Arifin menilai pentingnya pandangan keagamaan yang tengahan atau wasathiyah untuk menjaga harmoni dan toleransi antar umat beragama.
TVMU.TV - Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muchamad Arifin menilai pentingnya pandangan keagamaan yang tengahan atau wasathiyah untuk menjaga harmoni dan toleransi antar umat beragama.
Maka dari itu, ia mengajak seluruh umat Islam untuk mengedepankan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di tengah keberagaman Indonesia yang majemuk.
Arifin pun menekankan pentingnya membangun hubungan antarumat manusia dengan semangat saling mengenal, menghargai, dan menghormati tanpa harus saling mengikuti keyakinan.
“Dalam hidup di tengah keberagaman, kita harus saling mengenal, saling menghargai, saling menghormati, namun tidak saling mengikuti,” jelas dalam acara yang diselenggarakan oleh BNPT, Senin (30/6).
Lebih lanjut, Arifin menjelaskan semangat toleransi merupakan prinsip Al-Qur’an, seperti dalam firman Allah: “Lakum diinukum wa liya diin” (Untukmu agamamu dan untukku agamaku) – QS. Al-Kafirun: 6. Ayat ini menjadi dasar penghormatan terhadap perbedaan keyakinan dan menolak paksaan dalam beragama sebagai bagian dari moderasi beragama.
Menurut Arifin, konsep Islam wasathiyah atau Islam moderat adalah solusi terbaik dalam mengamalkan ajaran Islam di tengah kemajemukan Indonesia. Prinsip ini menolak ekstremisme dan kekerasan, serta mengedepankan keseimbangan dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain itu, Arifin juga mengingatkan peran Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang berkontribusi besar dalam pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ia menegaskan komitmen Muhammadiyah untuk terus merawat persatuan bangsa dan mengajak para eks Jamaah Islamiyah bersama-sama menjaga keutuhan negara.
“Muhammadiyah terus berperan aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Melalui Lembaga Dakwah Komunitas (LDK), kami mengirim para dai ke daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) untuk mendorong kemajuan dan mengejar ketertinggalan pembangunan,” pungkasnya.