PP ‘Aisyiyah Soroti Krisis Fatherless dan Kasus Bunuh Diri Anak di Indonesia
TVMU.TV - Berbagai persoalan serius yang menimpa anak-anak di Indonesia menjadi sorotan dalam ceramah di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Sabtu (7/3).
Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Diyah Puspitarini, menilai kondisi anak Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang kompleks, mulai dari krisis peran keluarga hingga meningkatnya kasus kekerasan dan bunuh diri pada anak.
Dalam ceramahnya, Diyah yang juga komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menjelaskan bahwa fenomena fatherless, yakni hilangnya peran ayah dalam kehidupan anak, menjadi salah satu persoalan yang cukup memprihatinkan di Indonesia. Bahkan, menurutnya, fenomena tersebut termasuk yang terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Diyah mengungkapkan pengalamannya selama bertugas di KPAI yang mengharuskannya rutin bolak-balik Yogyakarta–Jakarta setiap pekan. Meski memiliki jadwal padat, ia tetap berupaya menjalankan tugas akademiknya sebagai dosen di UAD.
“Setiap pekan saya bolak-balik Yogyakarta–Jakarta. Senin berangkat ke Jakarta, Rabu atau Kamis pulang ke Jogja, lalu Jumat saya tetap mengajar di UAD. Saya tidak ingin kehilangan satu pahala, yaitu amal jariyah melalui mengajar,” ujarnya.
Kasus Bunuh Diri Anak Masih Mengkhawatirkan
Diyah juga menyoroti meningkatnya kasus bunuh diri pada anak yang ditanganinya selama bertugas di KPAI, khususnya pada anak korban kekerasan fisik dan psikis.
“Kalau melihat media sosial saya, sering kali saya berada di makam. Banyak anak yang meninggal dunia karena berbagai kasus yang saya tangani,” katanya.
Data KPAI menunjukkan, pada 2023 tercatat 46 anak meninggal akibat bunuh diri. Angka tersebut menurun menjadi 43 kasus pada 2024 dan 27 kasus pada 2025. Meski demikian, jumlah percobaan bunuh diri pada anak masih tergolong tinggi.
Kasus tersebut terjadi pada berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kasus terbanyak terjadi pada anak usia sekolah menengah pertama (SMP).
“Yang tidak tercatat sebenarnya lebih banyak lagi,” ujarnya.
Menurut Diyah, penyebab anak mengakhiri hidup tidak pernah berdiri sendiri. Berbagai faktor saling berkaitan, seperti perundungan (bullying), pola pengasuhan negatif, kemiskinan, hingga persoalan relasi remaja.
Ia juga menyinggung pengaruh media digital. Dalam salah satu kasus yang ditanganinya, seorang anak melakukan bunuh diri sambil menyiarkan aksinya secara langsung melalui media sosial.
Kasus Kekerasan Keluarga yang Ekstrem
Selain bunuh diri, Diyah juga menyoroti sejumlah kasus kekerasan ekstrem dalam keluarga, seperti filicide (orang tua membunuh anak), parricide (anak membunuh orang tua), dan familicide (pembunuhan satu keluarga).
Ia mencontohkan kasus di Medan ketika seorang anak yang masih duduk di kelas enam sekolah dasar membunuh ibunya.
“Saya bahkan sempat dihujat karena mengatakan kemungkinan besar pelakunya memang anak itu sendiri. Tetapi setelah bertemu langsung, ternyata benar,” ujarnya.
Menurutnya, kasus tersebut menunjukkan bahwa persoalan anak tidak selalu berkaitan dengan kemiskinan atau rendahnya pendidikan keluarga. Anak tersebut diketahui memiliki prestasi akademik yang baik.
“Ini menunjukkan bahwa persoalan anak tidak selalu berkaitan dengan kemiskinan atau pendidikan rendah,” katanya.
Dampak Budaya Digital dan Menurunnya Empati
Diyah juga mengingatkan dampak budaya digital terhadap perilaku anak. Ia mengapresiasi rencana pemerintah membatasi penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Ia mengungkapkan bahwa sejak 2023 telah mengirimkan surat kepada pemerintah untuk mengevaluasi sejumlah permainan digital yang dinilai berisiko bagi anak.
“Di satu kasus, anak melompat dari lantai delapan sekolah di Makassar. Di kasus lain, anak menabrakkan diri ke kereta api. Saat dicek, aplikasi terakhir yang dibuka di ponselnya adalah permainan tersebut,” ungkapnya.
Selain teknologi, ia juga menyoroti menurunnya empati di kalangan anak. Dalam beberapa kasus perundungan, anak yang menjadi korban justru direkam atau ditertawakan oleh teman-temannya alih-alih ditolong.
Ia juga menyinggung fenomena ketika anak-anak lebih mengenal tokoh kartun sebagai panutan dibandingkan figur teladan dalam keluarga maupun tokoh agama.
“Banyak yang menyebut tokoh kartun seperti Upin Ipin, tetapi jarang yang menyebut Nabi Muhammad atau bahkan orang tuanya sendiri,” katanya.
Pentingnya Dialog dalam Keluarga
Menurut Diyah, pendidikan karakter sebenarnya telah banyak diajarkan dalam Islam, salah satunya melalui kisah Lukman dalam Al-Qur’an yang menekankan pentingnya tauhid, salat, amar makruf nahi mungkar, serta akhlak kepada orang tua.
Ia menilai metode dialog antara orang tua dan anak menjadi kunci penting dalam pengasuhan.
“Anak sebenarnya tidak hanya membutuhkan uang dari ayahnya. Yang paling mereka butuhkan adalah dialog,” katanya.
Diyah menambahkan, banyak ayah yang hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara emosional dalam kehidupan anak.
Ia juga menekankan pentingnya keteladanan ibu dalam keluarga dengan mencontohkan kisah Siti Hajar dan Maryam yang menunjukkan ketekunan, usaha, dan ketawakalan dalam mendidik anak.
Di akhir ceramahnya, Diyah menegaskan bahwa sebagian besar persoalan anak sering kali bermula dari konflik dalam keluarga.
“Kalau orang dewasa punya masalah itu wajar. Tetapi tolong selesaikan secara dewasa, jangan di depan anak dan jangan melampiaskannya kepada anak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk tetap menjaga hubungan dengan orang tua.
“Minimal angkat telepon mereka, tanyakan kabarnya. Hal sederhana itu sangat berarti bagi orang tua,” kata Diyah.