Refleksi Isra Mi’raj, Haedar Nashir Dorong Penguatan Iman dan Keteladanan Bangsa
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa peringatan Isra Mi’raj tidak boleh dimaknai sebatas seremoni keagamaan. Nilai-nilai spiritual dari peristiwa agung tersebut harus diaktualisasikan dalam kehidupan kebangsaan dan pembentukan pribadi yang salih.
Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam Refleksi Isra Mi’raj 1447 Hijriah yang digelar pada Jumat (16/1). Menurutnya, Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang menguji keimanan, ketakwaan, dan kemurnian tauhid seorang muslim karena berada di luar jangkauan nalar manusia.
Haedar menjelaskan, peristiwa Isra Mi’raj menjadi momentum penting untuk memperkuat relasi ketuhanan, baik bagi warga maupun para pemimpin bangsa. Penguatan iman, takwa, dan tauhid diyakini mampu membentuk jiwa salih yang menjadi fondasi perilaku bermoral dalam kehidupan publik.
Kesalihan diri, lanjut Haedar, harus menjadi pagar batin yang menahan manusia dari kecenderungan berbuat buruk, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, perilaku tidak etis, serta ucapan dan tindakan yang tidak pantas.
“Itu harus menjadi kerangka yang tidak boleh kita lakukan, karena kita memiliki iman, takwa, dan tauhid kepada Allah. Bahkan dari relasi dengan Allah itu harus melahirkan relasi murakabah,” katanya.
Haedar menjelaskan, relasi murakabah merupakan kesadaran spiritual bahwa setiap manusia senantiasa berada dalam pengawasan Allah. Jika kesadaran ini tumbuh kuat dalam diri warga dan para pemimpin, maka dorongan untuk melakukan perbuatan tercela dapat ditekan.
Selain aspek spiritual personal, Haedar juga menekankan pentingnya menjadikan Isra Mi’raj sebagai cermin keteladanan Nabi Muhammad SAW. Ia menilai bangsa Indonesia, termasuk para pemimpin dan tokoh agama, tengah mengalami krisis keteladanan.
“Mari jadikan peringatan Isra Mi’raj untuk belajar terus menerus menampilkan (keteladanan) yang otentik,” tuturnya.
Haedar mengingatkan para pemimpin bangsa agar menjadikan Isra Mi’raj sebagai refleksi dalam berkata dan bertindak secara hati-hati dan bertanggung jawab. Dengan demikian, kepercayaan dan penghormatan masyarakat dapat tumbuh karena adanya teladan nyata dari para pemimpinnya.
Sementara itu, kepada para elit agama, Haedar menegaskan pentingnya keselarasan antara ajaran dan tindakan. Ketidaksinkronan antara nilai luhur agama dan perilaku nyata, menurutnya, justru berpotensi merusak kepercayaan umat.
Ia menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa keteladanan otentik harus kembali merujuk pada Nabi Muhammad SAW sebagai barometer utama. Para tokoh di berbagai level diharapkan mampu menjadi oase keteladanan di tengah kegersangan moral masyarakat.
“Jika peran suasana itu dijalankan, maka kehadiran para tokoh di berbagai level akan menjadi semacam oase bagi masyarakat luas yang haus akan keteladanan,” pinta Haedar.