Saad Ibrahim: Santri Darul Arqam Harus Kuasai Ilmu, Iman, dan Kepedulian Sosial

Saad Ibrahim: Santri Darul Arqam Harus Kuasai Ilmu, Iman, dan Kepedulian Sosial
Ketua PP Muhammadiyah, Saad Ibrahim saat menghadiri Haflah Akhirussanah Wat Takharruj Santriwan dan Santriwati Angkatan 43 dan 31 (Harsana 431) Darul Arqam Muhammadiyah Garut di Ballroom Santika Hotel Premiere Garut, Sabtu (9/5/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Saad Ibrahim, menegaskan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan, nilai keislaman, dan kepedulian sosial dalam membentuk generasi santri yang siap menghadapi tantangan zaman.

Pesan itu disampaikan Saad saat menghadiri Haflah Akhirussanah Wat Takharruj Santriwan dan Santriwati Angkatan 43 dan 31 (Harsana 431) Darul Arqam Muhammadiyah Garut di Ballroom Santika Hotel Premiere Garut, Sabtu (9/5/2026).

Kegiatan bertema “Menenun Cerita, Mengukir Rasa yang Takkan Sirna” itu menjadi momentum pelepasan santri sekaligus penguatan arah pendidikan pesantren Muhammadiyah di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial yang kian dinamis.

Dalam amanatnya, Saad menekankan bahwa ulama tidak hanya diukur dari penguasaan teks keagamaan, tetapi juga dari kemampuan memahami realitas alam, fenomena sosial, serta keberpihakan kepada kemaslahatan umat.

“Seorang ulama adalah mereka yang memahami fenomena alam, memahami struktur dan dinamika hubungan antarmanusia, mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah secara mendalam, menjaga hubungan dengan Allah, serta menyalurkan rezeki dan ilmu untuk kemaslahatan umat,” kata Saad.

Menurutnya, pemahaman tersebut merujuk pada kandungan Surah Fatir ayat 27, 28, dan 29 yang menjelaskan karakter orang alim. Karena itu, penguasaan sains, ilmu sosial, dan agama tidak dapat dipisahkan dalam membangun peradaban Islam yang maju.

Saad menjelaskan, sejarah Islam menunjukkan tradisi keilmuan yang kuat. Dari penguasaan Ulumul Qur’an, Ulumul Hadis, fikih, hingga ilmu-ilmu sains, semuanya lahir dari semangat memahami wahyu sekaligus membaca realitas kehidupan.

“Tanpa bimbingan ilahi, kehebatan manusia hanya akan membawa kerusakan. Tetapi dengan iman, ilmu itu akan menjadi rahmat bagi semesta,” ujarnya.

Ia juga menyinggung langkah Persyarikatan Muhammadiyah yang baru-baru ini menetapkan Kalender Islam Global. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan contoh pendekatan saintifik dalam kehidupan beragama yang sejalan dengan warisan intelektual KH Ahmad Dahlan.

Saad mengingatkan bahwa sejak mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Al-Islamiyah pada 1911, KH Ahmad Dahlan telah mengintegrasikan ilmu bumi, ilmu hitung, dan ilmu falak ke dalam kurikulum pendidikan.

“Penggunaan ilmu hisab dan falak bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan upaya saintifik untuk menjamin akurasi ibadah umat,” tuturnya.

Lebih lanjut, Saad menilai pesantren modern perlu memperkuat kembali literasi klasik sebagai fondasi keilmuan santri. Penguasaan ilmu alat seperti nahwu, sharaf, dan balaghah dinilai menjadi kunci agar santri mampu memahami sumber ajaran Islam secara mendalam.

“Tanpa pemahaman struktur bahasa yang kuat, santri akan sulit membedah teks asli dari sumbernya,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Saad juga menyampaikan pesan khusus kepada para santri yang telah menyelesaikan pendidikan.

“Kepada para santri yang telah mencapai titik ini, saya mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengucapkan selamat dan sukses untuk kehidupan yang lebih menantang dan terbuka di dunia,” ucapnya.

Ia optimistis bekal pendidikan selama enam tahun di Darul Arqam akan menjadi fondasi kuat bagi para lulusan untuk melanjutkan jejak keberhasilan para alumni sebelumnya.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Ma’had Aly Direktorat Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Mahrus, mengapresiasi capaian para alumni Darul Arqam.

“Alumni Darul Arqam ini keren-keren karena prestasinya luar biasa,” kata Mahrus.

Ia menambahkan, sejumlah alumni Darul Arqam telah menempati posisi penting di pemerintahan, di antaranya Prof. Hilman Latief dan Raja Juli Antoni.

Menurut Mahrus, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren menegaskan tiga fungsi utama pesantren, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, pesantren dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun sumber daya manusia Indonesia.

Adapun Mudir Darul Arqam, H. Ahmad Syaoqie, S.Ag., M.Si., mengingatkan para santri agar tidak melupakan proses pembentukan karakter selama menempuh pendidikan di pesantren.

“Sebentar lagi para santri mungkin di subuh hari tidak akan mendengar para musrif-musrifah yang membangunkan, tetapi yakin itu kenangan yang pasti terpatri dalam diri para santri,” ujarnya.

Ia juga berpesan agar para santri senantiasa mengingat perjuangan orang tua.

“Jangan lupakan orang tua, dengan keringat yang dicucurkan oleh ayah dan doa ibu di sepertiga malam yang semuanya untuk memperjuangkan ananda,” kata Ahmad Syaoqie.

Haflah Akhirussanah Darul Arqam tahun ini bukan sekadar seremoni kelulusan. Di tengah suasana haru, acara itu menjadi penegasan bahwa pesantren tetap memegang peran penting dalam menyiapkan generasi Muslim yang berilmu, berakhlak, dan siap memberi kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.