Songsong Usia 25 Tahun Lazismu, Hilman Latief Dorong Filantropi Muhammadiyah Adopsi Investasi Sosial dan Reputasi Global
TVMU.TV - Gerakan filantropi Islam di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah dituntut untuk terus berinovasi dan beradaptasi menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks. Menyongsong seperempat abad kiprah Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu), model penggalangan dana sosial konvensional dinilai perlu bertransformasi ke arah investasi sosial yang berkelanjutan (sustainability).
Pesan tegas tersebut disampaikan Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief, dalam acara pengarahan filantropi yang digelar di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/11/2026). Hilman menekankan pentingnya mengadopsi pendekatan neo-philanthropy yang mengintegrasikan penggalangan dana tradisional dengan model-model investasi sosial modern.
“Kita harus mulai mendorong gerakan filantropi yang konvensional itu dengan model-model investment,” ujar Hilman di hadapan para pengelola filantropi Muhammadiyah.
Hilman mendorong penerapan skema pembiayaan campuran (blended financing) dengan merangkul sektor korporasi untuk mengoptimalkan potensi dana sosial. Selain itu, investasi sosial tersebut diarahkan pada pemberdayaan berbasis kawasan yang disesuaikan dengan karakteristik khas daerah. Menurutnya, Lazismu di tiap daerah harus memiliki peta fokus gerakan yang presisi dan memiliki rekam jejak yang kuat.
“Jika konsep inovasinya tidak sama rata, sama rasa. Kalau di dalam prinsipnya iya, tapi konsep inovasi sosial dan social investment-nya dengan dana yang cukup besar itu harus kelihatan jejaknya yang lebih kuat,” jelasnya.
Guna mengukur kontribusi nyata Lazismu selama 25 tahun berdiri, PP Muhammadiyah kini telah menyiapkan instrumen riset evaluasi komprehensif. Evaluasi ini bertujuan mengukur dampak balik investasi sosial atau Social Return on Investment (SROI), baik dampak yang terukur (tangible) maupun dampak tak terwujud (intangible).
“Sebetulnya dari awal adanya Lazis sampai 25 tahun itu dampak yang sudah terbangun seperti apa? Baik yang tangible maupun yang intangible, yang kelihatan maupun yang tidak. Ini penting untuk membangun profil baru, semangat baru,” tutur Hilman.
Riset ini tidak hanya menyasar Lazismu, tetapi juga mengkaji tiga pilar utama gerakan sosial Muhammadiyah—yang kerap disapa "Trisula Muhammadiyah"—yakni Lazismu, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Hilman mengakui ketiga lembaga tersebut memiliki eksposur publik yang tinggi serta dedikasi lapangan yang luar biasa. Namun, ia menekankan pentingnya transisi dari sekadar kerja keras menuju pengelolaan manajemen serta analisis data berbasis digital (smart working).
“Saya ingin kerja-kerja cerdas itu kemudian bisa dirumuskan sampai ke outcome-nya,” tegas Hilman.
Menutup arahannya, Hilman optimistis Lazismu sudah saatnya "naik kelas" dan mengimbangi besarnya kapasitas dana yang dikelola dengan reputasi di tingkat internasional. Ia mendorong pengurus Lazismu untuk mengadopsi pola pikir berkemajuan agar mampu bermitra sejajar dengan badan-badan dunia.
“Bagaimana saya ingin mendorong Lazismu itu direcognize dengan baik oleh UNDP, oleh WHO, dan lembaga-lembaga internasional lainnya. Ya karena memang sudah saatnya. Jadi jangan dibandingkan dengan yang terjadi 5, 10, atau 20 tahun lalu, tapi harus sudah punya mindset yang betul-betul cerdas berkemajuan,” pungkasnya.
