Tujuh Transformasi Muhammadiyah untuk Perkuat Gerakan Berkemajuan
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya tujuh agenda transformasi besar untuk memperkuat gerak organisasi di tengah perubahan zaman.
Hal itu ia sampaikan dalam pidato iftitah Konsolidasi Nasional PP Muhammadiyah 2025 yang menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-113 Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Bandung, Senin (17/11).
Dalam paparannya, Haedar menyebut reformasi birokrasi sebagai fokus awal pasca-Muktamar Solo. Ia menekankan bahwa kantor dan sistem kerja Muhammadiyah harus mencerminkan organisasi modern, profesional, dan adaptif.
“Di Muhammadiyah kita harus memadukan kepemimpinan yang kuat dengan manajerial yang rapi dan efisien. Jangan serba asal-asalan,” ujarnya. Digitalisasi pertemuan, penguatan identitas organisasi, serta tata kerja yang efektif disebutnya sebagai fondasi utama pembaruan.
Haedar juga menekankan pentingnya kesatuan sistem keuangan serta penghormatan terhadap para pengelola amal usaha Muhammadiyah. Menurutnya, banyak yang menganggap pengelolaan keuangan Muhammadiyah mudah, padahal pembangunan amal usaha membutuhkan komitmen besar dan tata kelola yang kuat.
“Banyak yang berpikir uang Muhammadiyah itu gampang. Padahal membangun amal usaha itu tidak mudah,” katanya.
Ia menyoroti perlunya penguatan cash management secara bertahap, peningkatan kolaborasi antar rumah sakit, dan optimalisasi unit bisnis seperti Suryavena agar tetap produktif. Selain efisiensi, ia menekankan perlunya memperbesar kapasitas ekonomi organisasi agar Muhammadiyah tidak menjadi qid yati—tidak memiliki sehingga tidak mampu memberi.
Transformasi, lanjut Haedar, bukan sekadar memperbarui program lama, tetapi menciptakan unggulan baru di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Ia bahkan menyinggung peluang inovasi keuangan seperti aset digital berbasis emas, serta pentingnya keberanian melahirkan amal usaha baru agar Muhammadiyah tetap kompetitif.
Haedar juga meminta pimpinan di semua tingkatan memperkuat karakter kepemimpinan pergerakan—kepemimpinan yang menggerakkan, bukan hanya mengurus.
“Jangan sibuk mengurus pengurus, tetapi tidak menggerakkan organisasi,” ujarnya.
Ia menekankan perlunya mengaktifkan kembali ranting dan cabang, membaca persoalan di akar rumput, dan keluar dari zona nyaman. Kepemimpinan transformasional, katanya, harus mampu menggerakkan potensi, menciptakan agenda perubahan, dan memproyeksikan masa depan, termasuk arah Muhammadiyah untuk 25 tahun ke depan.
Haedar turut menyoroti lemahnya ekonomi umat dan perlunya dakwah yang benar-benar menyentuh pemberdayaan.
“Kita jangan berhenti pada konsep normatif. Pengajian harus menggerakkan kehidupan umat, bukan sekadar rutinitas,” tegasnya.
Dakwah komunitas, menurutnya, harus lebih membumi agar menjadi gerakan pencerahan yang nyata.
Dalam konteks kebangsaan, Haedar mengingatkan Muhammadiyah tetap menjadi suluh pemikiran bangsa tanpa terseret arus politik praktis.
“Jangan menjadi partisan. Muhammadiyah harus memberi solusi alternatif bagi persoalan kebangsaan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa konsep Negara Pancasila Darul Ahdi wa Syahadah harus menjadi bingkai fikih kebangsaan Muhammadiyah sekaligus menjadi pola pikir para pemimpin.
Agenda transformasi terakhir adalah memperkuat kiprah global Muhammadiyah tidak hanya melalui forum internasional, tetapi juga lewat ekspansi amal usaha di berbagai negara. Haedar menyebut Muhammadiyah Australia College (MAC) dan Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) sebagai pijakan awal, termasuk dorongan dari Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim agar Muhammadiyah membuka sekolah berciri Islam moderat di Malaysia.
Haedar juga mendorong produksi karya ilmiah yang dapat diterjemahkan ke berbagai bahasa sebagai bagian dari penguatan wacana Islam berkemajuan di tingkat internasional.