Ustaz Irfan Rizki Haas Ingatkan Pentingnya Qalbin Salim dan Kendali Diri di Era Digital

Ustaz Irfan Rizki Haas Ingatkan Pentingnya Qalbin Salim dan Kendali Diri di Era Digital
Ustaz Irfan Rizki Haas, M.S.I., dalam kegiatan Pengajian Semarak Milad ke-114 Muhammadiyah yang diikuti oleh seluruh rekan sekerja di lingkungan Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (7/11/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Di tengah hantaman arus informasi global dan riuhnya dinamika era digital yang bergerak sangat cepat, umat Islam dituntut untuk menjaga kejernihan hati, mengenali kapasitas diri, serta memegang teguh kendali atas hawa nafsu.

Pesan moral tersebut mengemuka dalam kegiatan Pengajian Semarak Milad ke-114 Muhammadiyah yang diikuti oleh seluruh rekan sekerja di lingkungan Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (7/11/2026).

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh Ketua PP Muhammadiyah dr. Agus Taufiqurrahman dan Sekretaris PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti. Bertindak sebagai penceramah utama, pendakwah muda Ustaz Irfan Rizki Haas, M.S.I., menyampaikan tausiah bernas mengenai kiat menjaga ketenangan jiwa di tengah kecemasan dunia modern.

Dalam tausiahnya, Ustaz Irfan mengingatkan bahwa derasnya terpaan pemberitaan negatif kerap memicu rasa cemas hingga mendekati keputusasaan. Padahal, sebagai seorang mukmin, berputus asa dari rahmat Sang Pencipta merupakan perbuatan yang dilarang agama.

“Dalam Al-Qur’an Surah Az-Zumar ayat 53 menyebutkan agar umat Islam tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT,” ujar Ustaz Irfan di hadapan para pegawai Kantor PP Muhammadiyah.

Lebih lanjut, untuk mengarungi zaman yang serba instan ini, Ustaz Irfan memaparkan tiga landasan utama yang harus dipegang teguh oleh setiap insan beriman.

Pertama, menjaga kejernihan hati atau qalbin salim. Hati diibaratkan sebagai nahkoda penentu amal perbuatan manusia. Merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW, ia mengingatkan bahwa baik buruknya fisik seseorang sangat bergantung pada kesehatan hatinya.

“Karena saat menghadap kepada Allah kelak di hari kiamat tidak akan lagi diukur dari seberapa banyak harta atau anak keturunan, melainkan dari membawa hati yang selamat (qalbin salim),” jelasnya.

Landasan kedua adalah mengenali kapasitas diri (syakilah). Menukil ayat suci Al-Qur'an Surah Al-Isra ayat 84 (kullu ya’malu ‘ala syakilatih), ia menjelaskan bahwa setiap manusia diciptakan dengan keunikan, potensi, dan medan pengabdian yang berbeda-beda agar mampu beradaptasi secara bijak di mana pun mereka berada.

“Menyadari siapa diri kita, apa kapasitas kita, dan di mana medan pengabdian kita jauh lebih penting daripada sekadar ambisi menjadi apa,” tegasnya.

Terakhir, landasan ketiga adalah kemampuan mengendalikan diri. Di era digital saat ini, di mana arus informasi dan komentar dapat disebarkan dalam hitungan detik, perilaku menahan lisan, bersabar, serta menyaring segala tindakan dari jeratan hawa nafsu menjadi kunci keselamatan hidup.

“Kadang-kadang enggak semua mesti diutarakan, sabar, ikhlas, dengan Allah itulah akan dijadikan bagian dari perjalanan,” pungkas Ustaz Irfan menutup tausiahnya.