Zulfikar Ahmad Tawalla Minta Kader Muhammadiyah Jaga Identitas dan Perkuat Ilmu
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah, Zulfikar Ahmad Tawalla mengingatkan kader dan aktivis Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) agar tidak terjebak dalam fenomena fear of missing out (FOMO) dalam menjalankan aktivitas keorganisasian dan dakwah.
Ia menegaskan bahwa identitas otentik Muhammadiyah harus tetap dijaga dan tidak digantikan oleh tren yang berkembang di masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Zulfikar dalam Kajian Menjelang Berbuka yang digelar di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (6/3/2026).
Dalam pemaparannya, Zulfikar menyoroti kecenderungan sebagian komunitas masjid yang dikelola kader AMM menggunakan istilah atau simbol yang dinilai lebih dekat dengan kelompok tertentu di luar tradisi Muhammadiyah.
“Terminologi-terminologi Islam kita di Muhammadiyah ini sering fomo dengan kondisi-kondisi mayoritas,” ungkap Zulfikar.
Ia menilai penggunaan simbol maupun istilah dalam ruang publik tidak bisa dianggap sepele. Menurutnya, simbol tersebut dapat mencerminkan ideologi serta pandangan keagamaan yang dianut oleh suatu komunitas.
Selain menyoroti identitas gerakan, Zulfikar juga menekankan pentingnya penguasaan ilmu bagi kader Muhammadiyah. Ia berharap kader AMM mampu menjadi figur yang memadukan kapasitas intelektual dengan kedalaman keilmuan agama.
Menurutnya, kader Muhammadiyah idealnya mampu menjadi ulama yang intelektual sekaligus intelektual yang ulama, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Namun, ia mengingatkan bahwa ilmu tidak cukup berhenti pada tataran teori atau wacana. Pengetahuan harus diikuti dengan praktik dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.
“Terminologi alim bagi Muhammadiyah itu adalah orang yang pintar, yang melepas kebodohan. Itu terminologi alim menurut orang-orang Muhammadiyah,” tuturnya.
Zulfikar juga mengutip pandangan Imam Syafi’i tentang pentingnya adab selain ilmu dan amal. Menurutnya, adab menjadi landasan agar seseorang tetap rendah hati meskipun memiliki pengetahuan yang luas.
Ia mengingatkan kader AMM agar tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk menyombongkan diri atau merendahkan orang lain.
“Kader AMM jangan merasa pintar kemudian semua orang hendak dilawan. Bahkan guru-guru SMA nya yang dahulu mendidiknya semasa sekolah di kampung pun didebatnya karena ingin menunjukkan kebolehannya atau menyombongkan diri,” ujarnya.
Melalui kajian Ramadan tersebut, Zulfikar berharap kader muda Muhammadiyah dapat terus memperkuat identitas organisasi, memperdalam ilmu, serta menjaga adab dalam berdakwah dan berinteraksi di tengah masyarakat.