7 PTMA Masuk Universitas Islam Terbaik Dunia Versi uniRank, Muhammadiyah Bidik Reputasi Global
TVMU.TV - Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) kembali mencatatkan prestasi di kancah internasional. Sebanyak tujuh PTMA berhasil masuk dalam daftar 25 universitas Islam terbaik di dunia versi uniRank, mempertegas daya saing perguruan tinggi Muhammadiyah di tingkat global sekaligus menjadi modal untuk memperkuat reputasi akademik internasional.
Berdasarkan pemeringkatan uniRank, tujuh PTMA yang masuk dalam daftar tersebut ialah Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) di peringkat pertama, Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) peringkat kelima, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) peringkat ketujuh, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) peringkat kedelapan, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) peringkat ke-17, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) peringkat ke-19, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) peringkat ke-22.
Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bambang Setiaji, menilai capaian tersebut merupakan hasil dari pengelolaan perguruan tinggi yang konsisten menerapkan sistem nirlaba berbasis wakaf. Menurutnya, model tersebut memungkinkan seluruh surplus pengelolaan dikembalikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
“Karena pemupukan dana itu sangat penting untuk jangka panjang suatu universitas. Dana tersebut nantinya dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas tenaga akademisi,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (24/7).
Bambang menjelaskan, sistem pengelolaan yang sehat tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga membangun kultur akademik yang mendorong mahasiswa menjadi pribadi mandiri, inovatif, adaptif, dan siap menghadapi perubahan zaman.
Sementara itu, Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, mengapresiasi pencapaian tujuh PTMA tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa hasil pemeringkatan bukanlah tujuan akhir.
Menurutnya, uniRank lebih banyak mengukur aspek popularitas dan visibilitas perguruan tinggi di dunia digital. Karena itu, PTMA tetap perlu memperkuat indikator akademik lain, seperti kualitas publikasi ilmiah, dampak riset, internasionalisasi, serta reputasi akademik.
“Kita bersyukur dari 165 PTMA, 21 di antaranya sudah meraih peringkat unggul. Tapi itu belum cukup dan masih banyak hal yang perlu kita tingkatkan,” katanya.
Muttaqin juga menyoroti tantangan yang dihadapi lulusan perguruan tinggi di tengah menyusutnya lapangan kerja formal. Menurutnya, banyak lulusan yang akhirnya bekerja di sektor nonformal karena terbatasnya kesempatan kerja.
“Tanpa mengecilkan pekerjaan-pekerjaan tersebut, tetapi faktanya pekerjaan itu dijalani karena mereka tidak memiliki pilihan lain,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong lulusan PTMA agar tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui kreativitas, inovasi, dan pengembangan talenta.
“Talenta para alumni itu bisa dimanfaatkan tidak harus di lapangan industri. Karena itu dibutuhkan kreativitas dan inovativitas agar dapat mencapainya,” imbuhnya.
Menurut Muttaqin, transformasi digital dan perkembangan kecerdasan artifisial (AI) justru membuka berbagai peluang profesi baru. Untuk menjawab tantangan tersebut, PTMA terus menyesuaikan kurikulum agar lulusannya memiliki kompetensi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Di sisi lain, Bambang menegaskan bahwa pendidikan di lingkungan PTMA tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter melalui pendekatan bayani, irfani, dan burhani. Pendekatan tersebut diharapkan melahirkan lulusan yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus spiritual.
Ke depan, Muhammadiyah juga terus memperkuat kolaborasi antarkampus PTMA agar keunggulan masing-masing perguruan tinggi dapat saling melengkapi dalam membangun reputasi global.
“Kami telah merundingkan apa yang bisa kita bawa ke reputasi global. Selanjutnya aspek mana yang akan kita sasar,” ungkap Muttaqin.
Ia menambahkan, PTMA yang belum meraih predikat unggul akan terus didampingi untuk meningkatkan mutu, sementara kampus yang telah unggul didorong menembus berbagai pemeringkatan internasional yang lebih kompetitif.
“Hingga kemudian kami berharap akan ada PTMA yang berhasil masuk ke peringkat seratus dunia, bahkan menduduki peringkat pertama,” tuturnya.
Dengan strategi tersebut, Muhammadiyah menargetkan PTMA terus berkembang menjadi perguruan tinggi berdaya saing global yang tidak hanya unggul dalam pemeringkatan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata melalui pendidikan, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.