Abdul Mu’ti Ajak Umat Maksimalkan Ibadah di Akhir Ramadan dan Tidak Terlalu Berburu Laylatul Qadar
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengajak umat Islam memaksimalkan ibadah pada malam-malam terakhir Ramadan tanpa harus terlalu terfokus “memburu” Laylatul Qadar. Ia menekankan bahwa setiap ibadah yang dilakukan dengan ikhlas tetap bernilai di sisi Allah.
Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema Laylatul Qadar yang disiarkan di tvMu, Rabu (11/3).
Menurutnya, yang terpenting bagi umat Islam adalah memaksimalkan amal pada penghujung Ramadan, bukan sekadar mengejar satu malam tertentu.
“Ibadah itu adalah amalan yang tidak sia-sia. Sepanjang kita laksanakan secara ikhlas karena Allah maka Allah akan memberikan balasan perbuatan kita, amal kita sesuai dengan kehendak Allah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Ramadan sendiri merupakan bulan penuh kemuliaan di mana seluruh amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Karena itu, umat Islam tidak perlu kecewa apabila merasa tidak mendapatkan malam Laylatul Qadar.
“Ramadan adalah bulan kemuliaan yang semua ibadah kita itu dilipat gandakan oleh Allah sehingga kita tidak harus kemudian berburu Laylatul Qadar dan kalau tidak dapat kemudian kita kecewa,” jelasnya.
Dalam penjelasannya, Abdul Mu’ti memaparkan dua pendekatan untuk memahami Laylatul Qadar, yakni pendekatan historis dan pendekatan amaliyah atau praktik ibadah.
Pada pendekatan historis, sebagian ulama berpendapat bahwa Laylatul Qadar merupakan peristiwa turunnya Al-Qur’an secara sekaligus dari Sidratul Muntaha ke langit dunia. Peristiwa tersebut dipandang hanya terjadi satu kali dalam sejarah.
“Sebagian ulama berpendapat bahwa Laylatul Qadar itu adalah peristiwa yang terjadi hanya sekali saja ketika Allah menurunkan Al-Quran secara sekaligus dari Sidratul Muntaha ke langit dunia,” terangnya.
Sementara itu, dalam pendekatan amaliyah, Laylatul Qadar dipahami sebagai malam istimewa yang diyakini hadir pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Berbagai hadis menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memperbanyak ibadah dan melakukan iktikaf pada periode tersebut.
“Ada beberapa hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad itu senantiasa melaksanakan ikhtikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadan,” katanya.
Pada malam tersebut, pahala ibadah diyakini sangat besar.
“Yang di malam itu pahala orang yang beribadah dilipat gandakan senilai atau setara bahkan lebih dari beribadah seribu bulan,” kata Abdul Mu’ti.
Meski demikian, ia menekankan bahwa semangat utama Ramadan adalah meningkatkan kualitas ibadah secara konsisten hingga akhir bulan.
“Karena itulah maka di akhir-akhir ini yang penting kita lakukan adalah bagaimana kita sprint before finish,” ujarnya.
Ia pun mengajak umat Islam memanfaatkan sisa waktu Ramadan dengan memperbanyak ibadah, termasuk iktikaf, zikir, dan doa.
“Kita berusaha untuk berlari kencang sebelum Ramadan ini selesai, selama kita masih ada kesempatan, masih ada waktu mari kita maksimalkan malam-malam terakhir di bulan Ramadan dengan beritikaf, dengan beribadah,” urainya.
Menurutnya, jika seseorang mendapatkan anugerah Laylatul Qadar, hal itu merupakan karunia dari Allah semata.
“Kalau Allah memberikan anugerah kepada kita Laylatul Qadar semuanya adalah atas ritu Allah dan semuanya atas apa yang menjadi kemahakuasaan Allah dan rahmat Allah bagi hamba-hambanya yang beribadah dengan ikhlas kepadanya,” jelas Abdul Mu’ti.