Abdul Mu’ti Jelaskan Alasan Al-Qur’an Turun Bertahap dalam Peristiwa Nuzulul Quran
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menjelaskan alasan Al-Qur’an diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, proses turunnya wahyu yang tidak sekaligus memiliki hikmah besar dalam pembentukan pemahaman, hafalan, dan strategi dakwah Islam.
Penjelasan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema Nuzulul Quran II yang disiarkan tvMu, Sabtu (7/3).
Ia mengatakan, pertanyaan mengenai mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus pernah menjadi perdebatan pada masa Nabi Muhammad SAW.
“Mengapa Quran tidak diturunkan secara sekaligus? Ini sempat menjadi protes orang-orang kafir atau challenge dari orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad,” ujarnya.
Menurut Abdul Mu’ti, dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa turunnya wahyu secara bertahap justru memudahkan umat Islam untuk memahami dan menghafalnya.
“Tidak turun sekaligus itu agar Quran itu tertanam kokoh dalam hati. Bisa dihafal di luar kepala, diresapi maknanya dan kemudian membentuk kepribadian kita,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar umat Islam membaca Al-Qur’an dengan penuh penghayatan.
“Dan karena itu maka bacalah dengan tartil, bacalah dengan pelan-pelan, dengan penuh penghayatan,” jelasnya.
Selain memudahkan hafalan, turunnya Al-Qur’an secara bertahap juga menjadi bagian dari strategi dakwah Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban masyarakat pada masa itu.
“Yang kedua, turunnya Al-Quran secara bertahap itu adalah bagian dari strategi dakwah. Strategi dakwah bagaimana Nabi Muhammad itu merubah masyarakat,” ujarnya.
Abdul Mu’ti mencontohkan turunnya ayat pertama dalam Surat Al-Alaq yang menjadi awal proses pendidikan bagi masyarakat Arab yang saat itu memiliki tingkat literasi rendah.
“Itu karena masyarakat Arab itu kan masyarakat yang ummi, masyarakat yang ilmunya rendah, masyarakat yang iliterit,” katanya.
Menurutnya, turunnya wahyu secara bertahap juga mendorong berkembangnya tradisi literasi di kalangan sahabat Nabi. Para sahabat tidak hanya menghafal, tetapi juga menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an di berbagai media sederhana.
“Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk mencatat Al-Quran itu di media-media yang bisa ditulisi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa proses penyebaran wahyu juga berlangsung melalui pembelajaran antarsahabat yang saling mengajarkan ayat-ayat yang mereka terima.
“Setiap Rasulullah menerima wahyu, para sahabat itu mengajarkan kepada para sahabat yang lainnya,” ujarnya.
Selain itu, sebagian ayat Al-Qur’an juga diturunkan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan para sahabat maupun masyarakat pada masa itu.
“Sebagian ayat itu turun sebagai jawaban atas pertanyaan sahabat Nabi atau masyarakat pada masa itu mengenai masalah tertentu,” kata Abdul Mu’ti.
Dengan berbagai alasan tersebut, ia menegaskan bahwa turunnya Al-Qur’an secara bertahap merupakan bagian dari proses pendidikan dan dakwah agar pesan wahyu dapat dipahami secara lebih mendalam oleh umat manusia.
“Karena merupakan bagian dari proses untuk membangun strategi dakwah supaya bisa dihafal dan supaya Quran itu lebih dipahami oleh para pembacanya,” ujarnya.