Abdul Mu’ti Ajak Umat Islam Perbanyak Iktikaf di 10 Hari Terakhir Ramadan
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengajak umat Islam memperbanyak ibadah iktikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadan. Iktikaf dinilai menjadi momentum penting untuk menenangkan diri, memperbanyak zikir, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan yang disiarkan tvMu, Selasa (10/3).
Ia menjelaskan bahwa memasuki 10 hari terakhir Ramadan, umat Islam biasanya meningkatkan intensitas ibadah dengan melaksanakan iktikaf di masjid.
“Alhamdulillah sekarang kita sudah memasuki 10 hari yang terakhir di bulan Ramadan dan biasanya kalau di 10 hari yang terakhir itu umat Islam melaksanakan ibadah ikhtikaf,” ujarnya.
Menurut Abdul Mu’ti, praktik iktikaf memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW.
“Kalau kita merujuk kepada ayat Al-Quran dan hadis Nabi, ikhtikaf ini memang ibadah yang senantiasa dilaksanakan oleh Nabi Muhammad beserta dengan para sahabat di 10 hari terakhir di bulan Ramadan,” katanya.
Ia mengutip salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan praktik iktikaf, yakni dalam Surah Al-Baqarah ayat 187.
“Quran surat al-Baqarah 187 menyebutkan, wala tuba shiruhuna wa antum akifuna fil masajid dan jangan kamu campuri, jangan kamu berkumpul suami istri sedangkan kamu sedang berikhtikaf di masjid,” jelasnya.
Menurutnya, ayat tersebut mengandung makna bahwa orang yang sedang beriktikaf dianjurkan untuk menghindari berbagai kesibukan duniawi agar dapat fokus beribadah.
“Ketika seorang sedang berikhtikaf itu dia memang uzlah, artinya menghindarkan diri dari hiruk pikuk, kesibukan dan berbagai macam hal yang bersifat duniawi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sebagian ulama juga menegaskan bahwa iktikaf dilakukan di masjid, baik masjid besar maupun masjid lingkungan.
Abdul Mu’ti juga mengutip riwayat dari Aisyah yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW selalu melaksanakan iktikaf pada 10 hari terakhir Ramadan.
“Rasulullah Muhammad itu selalu menghabiskan 10 hari terakhir di bulan Ramadan itu dengan berikhtikaf,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa tujuan utama iktikaf adalah memperoleh ketenangan batin melalui pengasingan diri sementara dari berbagai aktivitas dunia.
“Ikhtikaf itu adalah ibadah yang tujuan utamanya untuk mendapatkan ketenangan,” ujarnya.
Selain itu, iktikaf juga diisi dengan berbagai amalan seperti zikir, membaca Al-Qur’an, dan melaksanakan salat malam.
“Ikhtikaf itu kita laksanakan dengan memperbanyak dikir kepada Allah, dikir dengan membaca kalimah toibah, dikir dengan membaca Al-Quran dan melaksanakan sholat malam,” jelasnya.
Menurut Abdul Mu’ti, praktik iktikaf juga sering dikaitkan dengan pencarian malam Lailatul Qadar yang diyakini terjadi pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan.
“Sebagian mengkaitkan dengan Laylatul Qadar yang diyakini Laylatul Qadar itu terjadinya pada malam-malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadan,” ujarnya.
Ia berharap umat Islam dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki diri sebelum Ramadan berakhir.
“Dengan cara demikian insyaallah hidup kita menjadi tenang dan kita mengakhiri bulan Ramadan dengan jiwa yang bersih,” kata Abdul Mu’ti.