Abdul Mu’ti Ajak Masyarakat Maknai Mudik sebagai Perjalanan Spiritual dan Sosial
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengajak masyarakat memaknai tradisi mudik tidak hanya sebagai perjalanan pulang kampung, tetapi juga sebagai momentum memperbaiki diri secara spiritual dan sosial.
Hal itu disampaikannya dalam program Jendela Ramadan dengan tema 'Mudik' di tvMu, Senin (16/3), saat membahas tema mudik dalam konteks Ramadan dan Idulfitri.
Dalam penjelasannya, Abdul Mu’ti menyebut mudik memiliki makna kembali ke asal, yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga batiniah.
“Mudik itu artinya kembali ke udik, kembali ke udik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa terdapat dua dimensi penting dalam mudik, yakni spiritual dan sosial.
“Yang pertama itu mudik spiritual. Mudik spiritual itu artinya kita kembali kepada fitroh kita sebagai manusia yang bersih dari segala dosa,” jelasnya.
Menurutnya, ibadah puasa selama Ramadan menjadi sarana untuk mencapai kondisi tersebut.
“Disebutkan dia itu lahir ke dunia, seperti ketika dia dilahirkan di dunia dari rahim ibunya,” ungkapnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya mudik sosial yang diwujudkan melalui tradisi pulang kampung dan mempererat hubungan dengan keluarga serta masyarakat.
“Yang kedua itu adalah mudik sosial. Mudik sosial ini yang seringkali ditandai dengan berbagai macam kegiatan di mana kita ini kembali ke kampung halaman,” katanya.
Ia menilai kedua aspek tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
“Yang mudik spiritual dan mudik sosial itu merupakan satu kesatuan yang saling berkait,” tegasnya.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa esensi mudik bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan upaya membangun kembali nilai-nilai sosial khas masyarakat desa, seperti gotong royong dan empati.
“Ketika kita melaksanakan mudik, itu sebenarnya bukan hanya soal bagaimana kita ini pulang ke kampung, tapi harus membangun kembali budaya-budaya orang kampung,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan mudik sebagai ajang pamer keberhasilan materi.
“Jangan hanya mudik untuk menunjukkan bagaimana gemerlap materi yang kita miliki, jangan ada flexing yang sifatnya materialistis,” katanya.
Sebaliknya, ia mendorong masyarakat menjadikan momen mudik untuk memperbaiki hubungan sosial.
“Tapi mari kita fixing our social relation, kita perbaiki relasi sosial kita,” pungkasnya.