Makna Halal Bihalal Tradisi Khas Indonesia yang Menguatkan Silaturahmi Usai Ramadan

Makna Halal Bihalal Tradisi Khas Indonesia yang Menguatkan Silaturahmi Usai Ramadan
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti dalam programi Jendela Ramadan bertajuk ‘Halal Bihalal’ di tvMu, Rabu (18/3).

TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa halal bihalal merupakan tradisi khas Indonesia yang sarat makna spiritual dan sosial setelah Idulfitri. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang saling memaafkan, tetapi juga memperkuat hubungan antarmasyarakat.

Dalam program Jendela Ramadan dengan tema 'Halal Bihalal' di tvMu, Rabu (18/3), Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa halal bihalal berkembang sebagai budaya yang mempertemukan nilai keagamaan dan kearifan lokal.

“Kali ini kita akan berbicara mengenai halal-bihalal, ini adalah tradisi khas Indonesia yang dilakukan oleh umat Islam setelah merayakan sholat idul fitri dan setelah kita satu bulan penuh menunaikan ibadah puasa Ramadan,” ujarnya.

Ia menambahkan, halal bihalal bahkan telah menjadi praktik sosial yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat lintas agama di Indonesia.

“Halal-bihalal ini dirayakan tidak hanya oleh mereka yang beragama Islam, tapi oleh seluruh komponen masyarakat dan bangsa Indonesia,” lanjutnya.

Menurut Abdul Mu’ti, terdapat sejumlah tradisi yang melekat dalam halal bihalal, salah satunya adalah saling memberikan ucapan selamat Idulfitri dengan berbagai ungkapan khas.

“Nah ucapan selamat ini ada tiga komponen di Indonesia itu. Yang pertama adalah selamat idul fitri… Yang kedua itu ungkapan yang berasal dari hadis Nabi… takobbalallahu minna waminkum. Yang ketiga itu ditambahi dengan minal a’idin wal fa’izin,” jelasnya.

Selain itu, tradisi saling berkunjung atau open house menjadi bagian penting dari halal bihalal. Ia menilai, kegiatan ini mencerminkan keterbukaan dan kelapangan hati.

“Yang open house itu dilandasi oleh dua nilai. Yang pertama itu open mind… Yang kedua itu open heart. Open heart itu artinya lapang dada,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa esensi halal bihalal adalah saling memaafkan tanpa harus menunggu momen tertentu.

“Dan memberi maaf itu juga tidak harus menunggu orang meminta maaf kepada kita,” katanya.

Menurutnya, sikap memaafkan merupakan bagian dari nilai ketakwaan yang harus terus dijaga oleh umat Islam.

“Dan memberikan maaf itu adalah perbuatan yang mendekatkan diri kita kepada taqwa. Karena itu ciri dari orang yang bertaqwa adalah orang yang pemaaf,” tegasnya.

Ia juga menyebut halal bihalal sebagai bentuk “social refreshing” setelah menjalani ibadah Ramadan, sekaligus momentum untuk memperkuat silaturahmi dalam berbagai cara, baik secara langsung maupun melalui media digital.

“Halal-bihalal itu merupakan bentuk sukacita setelah melaksanakan ibadah puasa… bagian dari kita melakukan social refreshing dan bagian dari kita bersilaturahmi,” tuturnya.

Menutup pernyataannya, Abdul Mu’ti mengajak masyarakat menjadikan halal bihalal sebagai sarana memperbaiki hubungan sosial dan meningkatkan kualitas diri setelah Ramadan.