Abdul Mu’ti Jelaskan Makna Tilawatil Quran dan Pentingnya Mengamalkan Al-Qur’an

Abdul Mu’ti Jelaskan Makna Tilawatil Quran dan Pentingnya Mengamalkan Al-Qur’an
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema Tilawatil Quran yang disiarkan tvMu, Senin (9/3).

TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menjelaskan makna tilawatil Al-Qur’an sebagai upaya membaca, memahami, hingga mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, tilawah tidak sekadar membaca ayat suci, tetapi juga mengandung dimensi pemahaman dan pengamalan.

Penjelasan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema Tilawatil Quran yang disiarkan tvMu, Senin (9/3).

Ia mengatakan, tradisi tilawah Al-Qur’an di Indonesia kerap dikenal melalui ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang rutin diselenggarakan oleh berbagai lembaga pemerintah maupun organisasi.

“Sering kita dengar Musabakoh Tilawatil Quran yang itu merupakan ajang yang diselenggarakan oleh pemerintah Indonesia, berbagai kementerian menyelenggarakan, berbagai lembaga negara menyelenggarakan,” ujarnya.

Menurut Abdul Mu’ti, dalam tradisi MTQ, pembacaan Al-Qur’an biasanya dilakukan dengan teknik tertentu yang dikenal sebagai mujawat, berbeda dengan murotal.

“Biasanya Quran itu dibaca dengan cara mujawat, bukan murotal,” katanya.

Selain perlombaan membaca Al-Qur’an, kegiatan MTQ juga berkembang dengan berbagai cabang lain, seperti pemahaman Al-Qur’an dan hafalan Al-Qur’an.

“Sebagian mulai diikuti dengan Tafhimul Quran, bagaimana memahami Al-Quran,” jelasnya.

Ia menambahkan, sejumlah kegiatan juga mendorong umat Islam untuk menghafal Al-Qur’an dalam berbagai tingkatan.

“Sebagian juga ada misalnya mulai dilakukan berbagai upaya untuk khifdil Quran, menghafalkan Al-Quran,” ujarnya.

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa secara bahasa, tilawah berasal dari kata yang bermakna mengikuti sesuatu dengan sangat dekat. Dalam konteks Al-Qur’an, tilawah memiliki beberapa dimensi penting.

“Sehingga Tilawatil Quran itu memiliki empat dimensi,” katanya.

Dimensi pertama adalah membaca Al-Qur’an sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat hingga diwariskan secara berkesinambungan antar generasi.

“Sehingga ada pembacaan Quran itu mutawatir, saling bersambung antar generasi,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa proses belajar membaca Al-Qur’an sebaiknya dilakukan dengan bimbingan guru.

“Belajar Quran tidak boleh berguru kepada Google, tapi harus kepada guru,” katanya.

Dimensi kedua adalah memahami Al-Qur’an melalui penafsiran yang bersumber dari Al-Qur’an sendiri maupun dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

“Pertama, menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran. Dan yang kedua, menafsirkan Al-Quran dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan,” jelasnya.

Dimensi berikutnya adalah mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan pribadi.

“Tilawatil Quran itu adalah proses di mana kita berusaha mengamalkan Al-Quran untuk diri kita,” ujarnya.

Sedangkan dimensi terakhir adalah mendakwahkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial masyarakat.

“Mendakwahkan Al-Quran dalam kehidupan nyata,” kata Abdul Mu’ti.

Ia berharap bulan Ramadan menjadi momentum bagi umat Islam untuk semakin mendekatkan diri dengan Al-Qur’an, tidak hanya melalui bacaan, tetapi juga melalui pemahaman dan pengamalan nilai-nilainya.

“Semoga Ramadan ini menjadi momentum untuk kita memperbanyak tilawatil Quran,” ujarnya.