Abdul Mu’ti Jelaskan Keutamaan Makan Sahur dan Manfaatnya bagi Ibadah Puasa
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menjelaskan pentingnya makan sahur sebagai bagian dari rangkaian ibadah puasa Ramadan. Selain bernilai ibadah, sahur juga memiliki manfaat spiritual, kesehatan, hingga mempererat hubungan keluarga.
Hal itu disampaikannya dalam program Jendela Ramadan bertema Makan Sahur yang disiarkan tvMu, Kamis (5/3).
Menurut Abdul Mu’ti, anjuran sahur telah disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan adanya keberkahan dalam aktivitas tersebut.
“Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, Tasaharu fa’inna fissahuri barokah. Makan sahurlah kamu karena sesungguhnya dalam makan sahur itu terdapat berkah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam pandangan ulama fikih, sahur memiliki kedudukan sebagai sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan dalam menjalankan ibadah puasa.
“Kalau kita makan sahur itu menurut para ulama fikir hukumnya sunnah muakkadah. Sunnah muakkadah itu artinya sunnah yang sangat dianjurkan,” katanya.
Meski demikian, seseorang yang berpuasa tanpa sahur tetap sah menjalankan puasanya. Namun, menurutnya, orang tersebut kehilangan kesempatan meraih pahala tambahan dari ibadah sunnah tersebut.
“Kalau berpuasa tidak sahur tidak apa-apa, tetapi kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala dari ibadah sunnah itu,” jelasnya.
Abdul Mu’ti menambahkan, sahur disebut sebagai waktu yang penuh berkah karena mengandung berbagai manfaat bagi umat Islam yang menjalankannya.
“Dikatakan sahur itu merupakan berkah karena di dalamnya tergantung paling tidak empat manfaat dari kita makan sahur itu,” sebutnya.
Manfaat pertama, kata dia, berkaitan dengan aspek spiritual karena sahur menjadi bagian dari rangkaian ibadah puasa Ramadan.
“Kita makan sahur sebagai bagian dari kita beribadah, bagian dari rangkaian puasa kita,” ujarnya.
Selain itu, sahur juga memberikan energi dan stamina bagi tubuh sehingga seseorang dapat menjalankan aktivitas puasa dengan kondisi fisik yang lebih kuat dan sehat.
“Makan sahur itu bisa memberikan kita energi, stamina untuk kita ini berpuasa dengan fisik yang kuat, dengan fisik yang sehat,” terangnya.
Dia juga menyebut bahwa bangun pada waktu sahur memiliki manfaat kesehatan bagi tubuh. Menurutnya, para ahli kesehatan menilai waktu sahur memberikan pengaruh positif bagi kondisi fisik.
“Bangun di waktu sahur menurut para ahli kesehatan itu punya pengaruh yang sehat, pengaruh positif terhadap tubuh kita ini,” katanya.
Manfaat lain dari sahur adalah menjadi momen kebersamaan keluarga. Berbeda dengan buka puasa yang sering dilakukan di berbagai tempat, sahur biasanya berlangsung di rumah bersama anggota keluarga.
“Kalau sahur itu kan seringnya kita di rumah bersama keluarga, sehingga ada momen dimana kita melakukan family gathering,” ujarnya.
Abdul Mu’ti juga mengaitkan sahur dengan kebiasaan bangun pagi yang menjadi bagian dari program pembiasaan positif di lingkungan pendidikan.
“Waktu sahur itu adalah waktu yang muktabaroh, waktu yang kita dianjurkan banyak berdoa,” katanya.
Ia menambahkan, waktu sebelum sahur dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah seperti salat tahajud, membaca Al-Qur’an, hingga berdoa.
“Kita bisa sebelum sahur itu menunaikan sholat tahajud, kemudian kita membaca Al-Quran baru kemudian kita makan sahur,” jelasnya.
Di akhir penjelasannya, Abdul Mu’ti mengajak umat Islam menjadikan sahur sebagai sarana meningkatkan kualitas ibadah sekaligus menjaga kesehatan selama menjalankan puasa Ramadan.
“Mudah-mudahan kita nanti malam bersemangat untuk sahur dan kita menjadikannya sebagai sarana ibadah,” ujar Abdul Mu’ti.