Makna Sabar di Tengah Kejayaan, Ini Pesan Abdul Mu’ti
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa keberhasilan dan kejayaan juga merupakan ujian dari Allah SWT. Karena itu, sikap sabar tidak hanya dibutuhkan saat menghadapi kesulitan, tetapi juga ketika berada di puncak kesuksesan.
Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema “Sabar Ketika Berjaya” yang disiarkan di tvMu, Jumat (27/2).
“Menyambung pembicaraan episode sebelumnya tentang sabar, kali ini saya akan membahas tentang sabar di tengah keberhasilan,” ujarnya.
Menurut Abdul Mu’ti, masyarakat kerap mengaitkan sabar dengan kesedihan atau musibah, seperti kehilangan anggota keluarga maupun bencana alam. Pandangan tersebut tidak keliru, namun belum sepenuhnya utuh.
“Banyak kita sering mengkaitkan sabar itu dengan kesedihan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa musibah tidak selalu berbentuk kesulitan, tetapi juga bisa hadir dalam bentuk keberhasilan.
“Tetapi kalau kita berbicara musibah, musibah itu tidak selalu sesuatu yang bersifat kesedihan, tapi bisa sesuatu yang bersifat keberhasilan,” ujarnya.
Abdul Mu’ti menjelaskan, seseorang yang terus-menerus berhasil berpotensi lupa diri. Dalam kajian akhlak, kondisi ini dikenal dengan istilah istidroj.
“Orang dalam hidup ini diuji oleh Allah tidak hanya dengan kesulitan, tapi juga dengan berbagai macam kemudahan. Dalam studi-studi ahlak itu disebut dengan istidroj,” jelasnya.
“Istidroj itu adalah satu kondisi di mana orang itu sukses terus, berhasil terus. Pengen ini, pengen itu, semuanya itu bisa diraih. Tapi dia tidak sadar bahwa sesungguhnya dia sedang diuji oleh Allah,” lanjutnya.
Ia memaparkan setidaknya tiga potensi bahaya ketika seseorang tidak sabar dalam keberhasilan. Pertama, munculnya sikap takabur dan sombong.
“Ketika orang berhasil terus, maka apa yang terjadi? Kemungkinan pertama dia menjadi orang yang takabur, menjadi orang yang sombong,” ujarnya.
Kedua, melampaui batas dalam menggunakan harta dan jabatan.
“Kalau orang lagi punya banyak harta, oh dia ingin semuanya dibeli kan? Semuanya ingin dibeli. Menjadi orang yang konsumtif. Karena semuanya bisa dia beli dengan uang yang dia miliki,” katanya.
Ia juga menyinggung penyalahgunaan jabatan.
“Orang bisa melampaui batas dengan jabatannya, karena apapun bisa dia lakukan dengan jabatan itu,” tuturnya.
Ketiga, keberhasilan yang tidak disikapi dengan sabar justru dapat menjadi awal dari kejatuhan.
“Bisa jadi kemudian ketika dia sedang berjaya itu, sesungguhnya dia sedang menuju kepada proses untuk dia itu jatuh karena tidak sadar dan tidak sabar dengan yang dimiliki itu,” ujarnya.
Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa harta dan jabatan bersifat sementara. Karena itu, kesuksesan harus dimanfaatkan untuk kebaikan dan pengabdian.
“Kita diberi Allah harta yang banyak, jangan untuk foya-foya, tapi mari kita dermakan untuk sesama. Kita investasikan untuk kebaikan,” katanya.
“Kita diberikan oleh Allah jabatan, kita gunakan jabatan itu untuk pengabdian kepada masyarakat,” lanjutnya.
Ia menekankan, semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk bersikap bijak.
“Sehingga makin tinggi posisi kita, kita harus semakin bijak dan makin arif sehingga kebijakan yang kita buat adalah kebijakan yang terbaik,” ujarnya.
Di akhir tausiyahnya, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa segala pencapaian hanyalah titipan dari Allah SWT.
“Dengan seperti itu maka kita semuanya sadar bahwa semuanya adalah titipan, semuanya sementara dan karena itu maka ketika sedang berjaya kita harus sabar dan sadar bahwa semuanya adalah titipan dari Allah sehingga dengan kita sabar ketika sedang berjaya, kita tidak menjadi orang yang sombong, tidak menjadi orang yang takabur, tidak menjadi orang yang melampaui batas, sehingga kita tetap berada pada jalan yang benar,” pungkasnya.