Abdul Mu’ti Ajak Umat Jadikan Sedekah Ramadan sebagai Investasi Spiritual

Abdul Mu’ti Ajak Umat Jadikan Sedekah Ramadan sebagai Investasi Spiritual
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema “Sedekah di Bulan Ramadan” yang disiarkan di tvMu, Sabtu (18/2).

TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menegaskan bahwa sedekah di bulan Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ciri utama orang bertakwa sekaligus bentuk investasi spiritual dan sosial yang berdampak luas.

Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema “Sedekah di Bulan Ramadan” yang disiarkan di tvMu, Sabtu (28/2).

“Ramadan itu identik dengan sedekah,” ujarnya membuka tausiyah.

Menurutnya, fenomena berbagi selama Ramadan dapat dilihat dari tiga sudut pandang. Pertama adalah pendekatan teologis, yakni sedekah sebagai ciri orang bertakwa.

“Quran menyebutkan orang bertakwa itu adalah Allahi na yungfikuna fissarro wantoro, mereka yang senantiasa menginfakkan riski yang mereka miliki itu dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa berderma tidak harus menunggu kaya raya.

“Berderma itu tidak harus menunggu kaya raya. Dan yang dimaksud dengan kaya itu bukan mereka yang bergelimang harta tapi orang yang merasa cukup dengan apa yang dia miliki sehingga kemudian dia berbagi,” katanya.

Abdul Mu’ti menambahkan, sedekah yang diniatkan untuk menolong sesama akan mendatangkan keberkahan.

“Menafkahkan riski yang dimiliki itu kita niatkan untuk menolong sesama yang memerlukan sehingga dengan itu maka harta kita bisa menjadi berkah dan insyaallah bertambah karena doa-doa orang yang kita berikan sedekah itu,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya konsistensi dalam berinfak.

“Berinfak tidak harus banyak tetapi konsisten sehingga karena itu lafat yang digunakan adalah fiil mudhore yung fikuna itu artinya hal wal istiqbal. Sekarang dan yang akan datang maksudnya kontinu terus-menerus itu yang pertama pendekatan teologinya,” tuturnya.

Pendekatan kedua, lanjut Abdul Mu’ti, adalah sedekah sebagai investasi. Ia mengibaratkan infak seperti menanam benih yang kelak berbuah berlipat ganda.

“Kita berinvestasi sehingga karena itu Qur’an menjelaskan infak itu seperti menanam pohon orang-orang yang berinfak itu adalah mereka yang seperti menanam pohon dengan satu biji, yang satu biji itu kemudian tumbuh menjadi pohon yang memiliki tujuh tangkai dan setiap tangkai ada seratus biji. mathaluladzina yung fikuna amwalahum fisabilillah kamadhalihabbatin ambatatsab asanabil fikul lisumpulatimia atuhabbah,” paparnya.

Ia mengakui ayat tersebut kerap dimaknai sebagai pahala yang dilipatgandakan hingga 700 kali. Namun menurutnya, makna investasi jangka panjang lebih penting untuk dipahami.

“Menanam pohon itu perlu proses, perlu ketelitian, perlu kecermatan yang hasilnya itu tidak bisa kita lihat seketika bahkan kita yang menanam pun mungkin tidak menikmati buahnya,” ujarnya.

Pendekatan ketiga adalah perspektif sosial. Abdul Mu’ti menekankan bahwa sedekah tidak terbatas pada materi.

“Ada buku judulnya The Power of Giving, dasarnya orang yang banyak bersedekah dan diantara bersedekah itu tidak selalu bersedekah berupa harta, bisa sedekah waktu, bisa sedekah ilmu, bahkan juga bisa sedekah buku, atau bahkan mungkin sedekah diri kita mau mendengar keluh kesah orang lain itu juga sedekah,” katanya.

Menurutnya, karakter bertakwa tercermin dari kebiasaan berbagi dalam berbagai bentuk.

“Dan itu semuanya merupakan bagian dari karakter manusia bertakwa yaitu mereka yang senantiasa bersedekah,” pungkasnya.

Abdul Mu’ti menambahkan bahwa pembahasan lebih lanjut mengenai hubungan sedekah dengan puasa akan disampaikan pada episode berikutnya.