Abdul Mu’ti Jelaskan Makna Idulfitri sebagai Kembali ke Fitrah dan Kesucian

Abdul Mu’ti Jelaskan Makna Idulfitri sebagai Kembali ke Fitrah dan Kesucian
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertajuk ‘Memaknai Idulfitri’ di tvMu, Ahad (15/3).

TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menjelaskan makna Idulfitri sebagai momentum kembali ke kesucian diri setelah menjalani ibadah Ramadan. Hal itu disampaikannya dalam program Jendela Ramadan bertajuk 'Memaknai Idulfitri' di tvMu, Ahad (15/3).

Dalam penjelasannya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Idulfitri memiliki makna mendalam, tidak sekadar perayaan, tetapi bagian dari proses spiritual umat Islam.

“Nah al fitr itu sebenarnya punya dua makna,” ujarnya.

Ia menjelaskan, makna pertama Idulfitri berkaitan dengan kembalinya aktivitas makan setelah sebulan berpuasa.

“Kalau secara fige, idul fitr itu artinya kembali makan. Karena selama berpuasa kita ini kan tidak boleh makan dan minum pada siang hari,” jelasnya.

Namun, makna yang lebih esensial adalah kembali kepada fitrah atau kesucian diri.

“Dalam pengertian yang kedua, idul fitri juga berarti idul fitroh. Kembali kepada fitroh,” lanjutnya.

Menurutnya, fitrah manusia adalah kondisi suci tanpa dosa sebagaimana saat dilahirkan.

“Fitroh itu artinya bersih, suci, tidak berdosa. Tidak memiliki kesalahan, tidak memiliki dosa-dosa,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa ibadah puasa dan amalan Ramadan menjadi sarana untuk membersihkan jiwa dari dosa.

“Jadi kembali kita bersih, berpuasa, dan ibadah yang lainnya, itu bagian dari kita membersihkan jiwa kita,” ungkapnya.

Selain makna spiritual, Abdul Mu’ti juga menjelaskan sejumlah syariat yang dianjurkan saat Idulfitri, seperti mengumandangkan takbir dan melaksanakan salat Id.

“Karena itu pada saat idul fitri, kita disunahkan untuk bertakbir atau takbiran istilahnya itu,” tuturnya.

Ia menambahkan, salat Idulfitri merupakan bagian penting dari perayaan yang memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam.

“Yang kedua, kita diberikan tuntunan untuk menunaikan sholat idul fitri,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Idulfitri juga merupakan hari kebahagiaan yang dianjurkan untuk dirayakan dengan penuh suka cita, termasuk mengenakan pakaian terbaik.

“Nabi itu selalu mengenakan pakaian yang indah, karena itu merupakan hari bahagia, hari bergembira,” katanya.

Menutup pernyataannya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari syariat yang harus dijalankan sesuai tuntunan agama.

“Idul fitri bukanlah tradisi, tapi idul fitri adalah bagian dari syariat Allah, yang kita tunaikan sesuai dengan apa yang disunahkan oleh Rasulullah,” pungkasnya.