Abdul Mu’ti Sebut Tradisi Buka Bersama di Indonesia Jadi Warisan Budaya Dunia

Abdul Mu’ti Sebut Tradisi Buka Bersama di Indonesia Jadi Warisan Budaya Dunia
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema Buka Bersama yang disiarkan tvMu, Rabu (4/3).

TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menyebut tradisi buka bersama yang berkembang di Indonesia kini telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya dunia. Tradisi tersebut dinilai tidak hanya menjadi praktik keagamaan, tetapi juga budaya yang mempererat hubungan sosial masyarakat.

Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema Buka Bersama yang disiarkan tvMu, Rabu (4/3).

“Kali ini kita akan membahas tentang Buka Bersama. Ini sebuah tradisi yang berkembang di Indonesia, yang ternyata kalau kita mengikuti berbagai publikasi, Buka Bersama di Indonesia dan beberapa negara Muslim itu ternyata telah menjadi warisan budaya takbenda dari UNESCO,” ujarnya.

Menurutnya, pengakuan tersebut menunjukkan bahwa tradisi buka bersama tidak hanya menjadi bagian dari budaya Islam di Indonesia, tetapi juga telah diakui sebagai warisan budaya dunia.

“Ini merupakan sumbangan yang sangat besar dari negeri kita Indonesia, bagaimana budaya Buka Bersama ini tidak hanya menjadi khasanah baru dalam kebudayaan dan tradisi Islam di Indonesia, tapi telah menjadi budaya dan warisan dunia,” katanya.

Abdul Mu’ti menjelaskan, selain Indonesia, sejumlah negara Muslim lain juga turut mengusulkan tradisi serupa sebagai warisan budaya, di antaranya Turki, Uzbekistan, dan Azerbaijan.

“Tentu selain Indonesia ada Turki, ada Uzbekistan, ada Azerbaijan, dan beberapa negara Muslim lain yang mengajukan Buka Bersama sebagai warisan budaya dunia,” jelasnya.

Ia menilai tradisi buka bersama lahir dari praktik keagamaan yang kemudian berkembang menjadi budaya sosial di masyarakat. Hal itu, kata dia, menunjukkan bahwa agama dapat menjadi sumber nilai sekaligus inspirasi lahirnya tradisi budaya.

“Budaya Buka Bersama itu merupakan pengamalan dari hadis Nabi bahwa orang yang berpuasa itu akan mendapatkan dua kebahagiaan. Kebahagiaan yang pertama adalah kebahagiaan ketika berbuka,” sebutnya.

Selain itu, tradisi tersebut juga berkaitan dengan anjuran untuk berbagi kepada sesama, termasuk memberi makan orang yang sedang berpuasa.

“Nah, momen kebahagiaan itu juga diikuti dengan hadis Nabi yang menyebutkan bahwa barang siapa yang memerimakan orang yang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala puasanya,” jelasnya.

Di Indonesia, menurut Abdul Mu’ti, tradisi buka bersama bahkan tidak hanya melibatkan umat Islam. Kegiatan tersebut kerap menjadi ajang pertemuan sosial yang diikuti berbagai kalangan.

“Dalam konteks Indonesia, Buka Bersama itu tidak hanya menjadi milik umat Islam karena yang ikut berbuka itu hampir seluruh kalangan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa sejumlah komunitas lintas agama hingga perwakilan negara sahabat juga sering mengadakan kegiatan buka bersama sebagai sarana mempererat hubungan sosial.

“Banyak pemeluk agama lain, pemeluk agama Kristen, Katolik, Budha, Konghucu, Hindu dan beberapa perwakilan negara sahabat juga menyelenggarakan Buka Bersama itu sebagai satu arena social gathering,” terangnya.

Karena itu, menurutnya, tradisi buka bersama tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan keagamaan, tetapi juga bentuk ekspresi budaya Islam yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.

“Karena itu maka Buka Bersama selain menjadi bagian dari acara agama juga telah menjadi tradisi yang merupakan satu bentuk furnakularisasi Islam di mana ajaran agama Islam itu diamalkan dalam kehidupan real di masyarakat,” urainya.

Abdul Mu’ti berharap tradisi tersebut terus dijaga sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia sekaligus sarana mempererat kebersamaan di tengah masyarakat selama Ramadan.