Abdul Mu’ti Jelaskan Sejarah hingga Makna Tilawah Al-Qur’an

Abdul Mu’ti Jelaskan Sejarah hingga Makna Tilawah Al-Qur’an
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti saat menyampaikan ceramah tentang makna Nuzulul Qur’an di Masjid Hajjah Kartinah, Getassrabi, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Selasa (4/3). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menyampaikan ceramah tentang makna Nuzulul Qur’an di Masjid Hajjah Kartinah, Getassrabi, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Selasa (4/3). Dalam tausiyahnya, ia mengulas turunnya Al-Qur’an dari sudut pandang sejarah, pendidikan, hingga praktik ibadah umat Islam.

Mu’ti menjelaskan bahwa proses turunnya Al-Qur’an berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama adalah turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Sidratul Muntaha ke langit dunia pada malam Lailatulqadar, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qadr:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar.”

Tahap kedua adalah turunnya wahyu secara bertahap dari langit dunia kepada Nabi Muhammad saw. sesuai dengan kebutuhan dan situasi umat saat itu. Para ahli tafsir menyebut wahyu pertama yang diterima Nabi adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1–5.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Mu’ti menuturkan bahwa susunan Al-Qur’an yang terjaga hingga saat ini tidak lepas dari peran Rasulullah saw. yang memerintahkan para sahabat untuk menghafal dan mencatat setiap wahyu yang diterima. Tradisi hafalan dan transmisi bacaan tersebut terus berlanjut dari generasi ke generasi sehingga keaslian Al-Qur’an tetap terpelihara.

“Al-Qur’an diajarkan dalam bentuk bacaan. Karena itu, belajar Al-Qur’an harus ada gurunya,” ujarnya.

Dari perspektif pendidikan, Mu’ti menekankan bahwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw. pada usia 40 tahun menjadi pelajaran penting bahwa proses belajar tidak dibatasi usia.

“Jangan merasa tua lalu tidak mau belajar. Inilah yang disebut belajar sepanjang hayat,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa kebiasaan membaca Al-Qur’an dapat membantu menjaga ketajaman daya ingat serta memperkuat kemampuan berpikir seseorang.

Dalam aspek ibadah, Mu’ti menegaskan bahwa tilawah Al-Qur’an tidak hanya berarti membaca secara lisan, tetapi juga mencakup pemahaman dan pengamalan ajarannya. Ia mengutip Surah Al-‘Ankabut ayat 45 sebagai dasar pentingnya membaca Al-Qur’an sekaligus menegakkan salat.

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ

“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”

Ia menjelaskan bahwa secara etimologis tilawah berarti mengikuti sesuatu secara dekat. Mengacu pada penjelasan Abdullah Yusuf Ali dalam The Meaning of the Glorious Qur’an (1934), tilawah memiliki empat dimensi utama.

Pertama, membaca Al-Qur’an sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. yang diwariskan melalui para sahabat hingga generasi setelahnya. Kedua, memahami kandungan Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir bil ma’tsur maupun bil ra’yi. Mu’ti juga mengutip pandangan Fazlur Rahman yang menyebut Al-Qur’an memiliki karakter self explanation, yaitu saling menjelaskan antarayat.

Ketiga, mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, membaca Al-Qur’an perlu disertai muhasabah, yakni refleksi diri terhadap perintah dan larangan yang terdapat di dalamnya.

Keempat, mendakwahkan nilai-nilai Al-Qur’an melalui perilaku nyata dalam kehidupan sosial. Ia mencontohkan Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang menegaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu.

“Jika Al-Qur’an menyatakan Allah mengangkat derajat orang beriman dan berilmu, maka umat Islam harus membuktikannya dengan menjadi pribadi yang beriman dan berilmu,” jelasnya.

Karena itu, Mu’ti mengingatkan bahwa kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tidak seharusnya berhenti pada kemampuan membaca semata.

“MTQ tidak sebatas membaca. Itu belum cukup. Harus disertai memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan,” pungkasnya.