Abdul Mu’ti Tegaskan Muhammadiyah Tak Boleh Tertinggal Teknologi AI, Tapi Jangan Tercerabut dari Akar Tradisi
TVMU.TV - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa Muhammadiyah harus aktif mengadopsi kemajuan teknologi, termasuk Kecerdasan Buatan (AI), tanpa kehilangan jati diri tradisinya.
Pernyataan ini disampaikannya dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah yang disiarkan langsung tvMu, Jumat (24/1).
“Kecanggihan teknologi tidak boleh membuat kita tercerabut dari akar-akar tradisi… Al-Qur’an harus kita kaji dan kontekstualkan dengan ilmu yang canggih tadi itu,” tegas Abdul Mu’ti.
Ia mengakui kemampuan AI yang luar biasa dalam menjelaskan berbagai fenomena, seperti penyebab penyakit kanker. Namun, Mu’ti menekankan bahwa AI memiliki batasan, terutama dalam aspek yang memerlukan empati dan hati nurani.
“AI bisa menjelaskan mengapa manusia terkena kanker… bisa dijelaskan itu dengan sangat cepat,…. AI tidak akan bisa melakukan riset tentang bagaimana menyembuhkan kanker gitu,” imbuhnya, seraya menjelaskan bahwa AI hanya memiliki head (kecerdasan kognitif), tetapi tidak memiliki heart (hati).
Untuk itu, dalam konteks pendidikan abad ke-21, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya keseimbangan head, hand (keterampilan), dan heart. Tanpa keseimbangan ini, manusia justru berisiko dikendalikan oleh teknologi.
Sebagai peringatan, ia menyebutkan kasus tragis seorang remaja di Amerika yang bunuh diri setelah putus asa karena cintanya pada AI (ChatGPT) tidak terbalas. Peristiwa ini, menurutnya, adalah alarm serius tentang bahaya ketergantungan berlebihan pada teknologi.
“Dia jatuh cinta pada ChatGPT itu, tapi ChatGPT mengatakan saya tidak bisa membalas cintamu, putus asa dia, kemudian akhirnya dia bunuh diri,” ujarnya.
Mu’ti menutup dengan pesan kunci, penguasaan teknologi adalah keniscayaan, tetapi manusia tidak boleh sampai dikuasai olehnya. Muhammadiyah didorong untuk menjadi pelaku aktif dalam perkembangan teknologi sekaligus penjaga nilai-nilai tradisi dan kemanusiaan.