Agus Taufiqurrahman Soroti Kesenjangan Ajaran dan Praktik Umat

Agus Taufiqurrahman Soroti Kesenjangan Ajaran dan Praktik Umat
Ketua PP Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman/ Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, menyoroti kesenjangan antara keluhuran ajaran Islam dan praktik umat dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan dalam Kajian Itikaf Angkatan Muda Muhammadiyah Piyungan di Masjid Baitul Muttaqin, Bintaran Wetan, Srimulyo, Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (18/3).

Menurut Agus, ajaran Islam memiliki nilai luhur yang tidak tertandingi, namun kerap tertutupi oleh perilaku sebagian umat yang belum mencerminkan nilai-nilai tersebut.

“Ajaran Islam itu sangat luhur. Tidak ada yang melebihi keluhuran ajaran Islam. Namun, Islam yang luhur ajarannya itu tertutupi kecemerlangannya oleh perilaku orang muslim yang jauh dari nilai Islam,” ungkap Agus.

Ia mencontohkan persoalan sederhana seperti kebersihan yang masih belum menjadi budaya di kalangan sebagian umat Islam. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara ajaran dan praktik di lapangan.

“Banyak ajaran Islam yang harusnya dikuatkan, diamalkan oleh orang yang mengaku Islam namun tidak diamalkan sehingga menjadi penutup kecemerlangan Islam,” tegasnya.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Muhammadiyah melalui Muktamar ke-48 yang digelar di Surakarta pada November 2022 menetapkan konsep Risalah Islam Berkemajuan (RIB). Konsep ini bertujuan membangun peradaban berbasis ajaran Islam yang autentik dan relevan dengan perkembangan zaman.

Agus menjelaskan, terdapat sejumlah prinsip utama dalam Islam berkemajuan. Pertama, berlandaskan tauhid dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang disembah dan ditaati.

“Jadi kalau mengaku Islam tapi tidak menegakkan tauhid berarti tidak benar,” ujarnya.

Kedua, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai rujukan utama dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam.

“Spirit ar-rujū‘ ilā al-Qur’ān wa al-Sunnah sebagai sumber membangun Islam yang berkemajuan,” kata Agus.

Ia menegaskan pentingnya menghidupkan ruang-ruang kajian Al-Qur’an agar tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, mengembangkan semangat tajdid atau pembaruan. Dalam aspek akidah dan ibadah, tajdid bersifat pemurnian, sedangkan dalam aspek muamalah dan kehidupan sosial bersifat dinamis dan adaptif.

“Itu purifikasi, gak boleh tambah-tambah,” tegasnya.

Dalam implementasinya, Muhammadiyah mengedepankan dakwah berbasis jamaah agar lebih efektif dan berdampak luas di masyarakat.

“Kalau orang perorang itu tentu dampaknya akan kalah dengan kalau kita bersama-sama,” ungkap Agus.

Ia menambahkan, koordinasi dan sistematisasi gerakan dakwah menjadi kunci agar nilai-nilai Islam dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas, termasuk melalui berbagai amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Melalui pendekatan tersebut, Muhammadiyah berharap kesenjangan antara ajaran Islam yang luhur dan praktik umat dapat semakin diperkecil, sekaligus menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.