Anwar Abbas Ingatkan Empat Jati Diri yang Harus Dipegang Teguh Muhammadiyah
TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas menekankan pentingnya keseimbangan dalam penerapan tiga pendekatan metodologis Majelis Tarjih, yaitu bayani (tekstual), burhani (kontekstual atau rasional), dan irfani (spiritual atau intuitif).
Hal ini disampaikan dalam Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Medan, Ahad (28/12).
Khususnya kepada para agen dakwah, Anwar meminta agar ketiga pendekatan digunakan secara proporsional. Ia mengamati bahwa saat ini di Muhammadiyah lebih dominan penggunaan pendekatan burhani.
Dominasi pendekatan burhani, menurut Anwar, telah menjadikan Muhammadiyah visioner. Ia mengilustrasikannya dengan kisah bersejarah pelurusan arah kiblat oleh K.H. Ahmad Dahlan.
“Tradisi dan kebiasaan waktu itu adalah orang kalau salat menghadap ke barat. Sehingga kalau seandainya praktik salat kita itu kita lihat lewat perspektif ilmu, itu bisa-bisa salatnya buka ke Mekkah, tapi ke Afrika Selatan dan ke Moskow,” ungkapnya.
Dari peristiwa itu, Anwar menarik pelajaran bahwa beragama membutuhkan ilmu. Penggunaan ilmu dalam memahami dan mengamalkan agama inilah yang menjadi ciri khas dan keunggulan Muhammadiyah.
“Bermuhammadiyah tidak boleh dengan taklid buta. Maka forum-forum diskusi di Muhammadiyah mudah ditemukan dan itu wajar,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Anwar Abbas juga mengingatkan empat jati diri Muhammadiyah yang harus senantiasa dijaga oleh seluruh kader, pimpinan, dan warga. Pertama, gerakan Islam, yang menjalankan ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Kedua, gerakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar, yang aktif mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan cara yang baik. Ketiga, gerakan tajdid (pembaruan). Keempat, gerakan pembangunan amal usaha.
Keempat jati diri ini, menurut Anwar, saling berkaitan dan berkelindan, menjadi fondasi kokoh bagi organisasi yang telah berusia lebih dari satu abad ini untuk terus relevan dan bermanfaat.