Bachtiar Dwi Kurniawan: Muhammadiyah Kini Jadi Gerakan Global yang Dipercaya Dunia
TVMU.TV - Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan menegaskan bahwa Muhammadiyah kini telah berkembang menjadi gerakan Islam berskala internasional yang diakui luas oleh masyarakat dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Bachtiar dalam kegiatan Pengajian dan Buka Puasa Bersama Muhammadiyah di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/3).
Menurutnya, Muhammadiyah yang awalnya lahir di Yogyakarta pada 1912 kini telah berkembang pesat dengan jaringan organisasi yang menjangkau berbagai wilayah di Indonesia hingga mancanegara.
“Perkembangan Muhammadiyah sudah sedemikian rupa, organisasinya tumbuh meluas bahkan mengakar. Tidak hanya ada di Pimpinan Pusat, tapi juga di Pimpinan Ranting bahkan di jemaah akar rumput. Setiap kita menolehkan wajah, kita akan berjumpa dengan Muhammadiyah,” ujar Bachtiar.
Ia menjelaskan, struktur organisasi Muhammadiyah saat ini tidak hanya berkembang secara vertikal dari tingkat pusat hingga ranting, tetapi juga meluas secara geografis. Kader dan jaringan dakwah Muhammadiyah, kata dia, telah hadir di berbagai negara di lima benua.
Bachtiar menyebut kader Muhammadiyah kini tersebar di Eropa, Afrika, Asia, Australia hingga Amerika. Bahkan ketika menjalankan ibadah di Tanah Suci, jamaah Indonesia kerap merasakan kehadiran kader Muhammadiyah yang turut memberikan rasa aman dan nyaman.
Lebih jauh, Bachtiar menilai tingginya kepercayaan masyarakat internasional terhadap Muhammadiyah menjadi indikator kuat bahwa organisasi ini memiliki reputasi global dalam bidang pendidikan, sosial, dan dakwah.
Ia menceritakan pengalaman ketika ada pihak dari Kamboja, negara dengan mayoritas penduduk beragama Buddha, yang ingin menyerahkan pengelolaan aset pendidikan kepada Muhammadiyah.
“Ada orang di luar negeri menghubungi Muhammadiyah. Mereka punya sekolah, punya pesantren, punya aset di sana, dan ingin memberikan aset tersebut kepada Muhammadiyah. Padahal Muhammadiyah belum berdiri di Kamboja. Tapi mereka bilang: ‘Nek ora Muhammadiyah, ora’ (Kalau tidak Muhammadiyah, tidak). Mereka maunya hanya Muhammadiyah yang mengelola,” ungkap Bachtiar.
Fenomena kepercayaan serupa juga terjadi di daerah Ketapang, Kalimantan Barat, di mana tokoh masyarakat non-Muhammadiyah memberikan amanah wakaf aset pendidikan untuk dikelola oleh persyarikatan tersebut.
Menurut Bachtiar, hal ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya dipercaya oleh internal warga persyarikatan, tetapi juga oleh masyarakat luas lintas agama dan latar belakang.
Di akhir penyampaiannya, Bachtiar mengajak para kader Muhammadiyah yang sedang menempuh pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri, untuk kembali berkontribusi membangun organisasi di daerah masing-masing.
Ia berharap kader muda Muhammadiyah dapat memperkuat peran persyarikatan sehingga manfaatnya semakin luas dirasakan oleh umat dan masyarakat.