Eco Bhinneka Muhammadiyah Ajak Lintas Iman Perkuat Kepedulian Lingkungan
TVMU.TV - Eco Bhinneka Muhammadiyah menggelar kegiatan Buka Bersama Lintas Iman bertema “Dari Meja Buka Menjaga Bumi Kita” di Aula Lantai 6 Gedung Dakwah Pusat Muhammadiyah, Menteng Raya, Jakarta Pusat, Selasa (10/3).
Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan berbagai tokoh lintas agama dan pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Acara tersebut dihadiri lebih dari 150 peserta, yang terdiri dari tokoh agama, akademisi, perwakilan pemerintah, aktivis masyarakat sipil, pemuda, organisasi lintas agama dan kepercayaan, hingga kalangan media.
Sejumlah mitra yang turut berpartisipasi antara lain Pusat Fasilitasi Kerja Sama Kementerian Dalam Negeri, WWF Indonesia, Kolese Kanisius, Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Kedutaan Besar Malaysia, serta Alner.
Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan menegaskan bahwa nilai-nilai agama pada dasarnya memiliki fondasi kuat dalam membangun kesadaran ekologis.
“Kita sering memaknai iman hanya sebagai hubungan dengan Tuhan. Padahal iman juga harus hadir dalam hubungan dengan manusia dan alam. Jika hubungan dengan alam rusak, maka hubungan dengan manusia dan Tuhan pun ikut terganggu,” ujar Hening.
Menurutnya, meningkatnya frekuensi bencana ekologis seperti banjir dan kerusakan lingkungan menjadi pengingat bahwa manusia tidak dapat memisahkan kehidupan spiritual dari tanggung jawab menjaga bumi.
“Karena itu kita perlu membuka ruang kolaborasi. Muhammadiyah bukan hanya rumah bagi umat Islam, tetapi juga rumah bagi umat untuk bersama-sama menjaga bumi,” katanya.
Dalam sesi dialog Ramadan yang dipandu Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahsan Jamet Hamidi, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Hilman Latief menyoroti masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap isu perubahan iklim.
“Perubahan iklim sering dipandang sebagai isu yang elit dan elitis, padahal dampaknya sangat nyata bagi kehidupan manusia,” ujar Hilman.
Ia menjelaskan bahwa dunia saat ini tengah memasuki fase transisi energi, ditandai dengan berkembangnya teknologi energi terbarukan serta meningkatnya penggunaan kendaraan listrik dan kebutuhan baterai. Namun, menurutnya, literasi masyarakat terkait isu tersebut masih perlu diperkuat.
“Literasi lingkungan perlu dibangun hingga ke tingkat pengambilan keputusan yang lebih populer agar masyarakat memahami pentingnya keberlanjutan,” katanya.
Hilman menambahkan, gerakan menjaga lingkungan memerlukan komitmen jangka panjang yang melibatkan berbagai pihak, termasuk generasi muda.
“Gerakan hijau selalu berbicara tentang masa depan. Karena itu generasi muda harus dilibatkan dan dipersiapkan sejak sekarang sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan bumi,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Eco Bhinneka Muhammadiyah berharap dialog lintas iman dapat memperkuat kerja sama berbagai elemen masyarakat dalam merespons tantangan perubahan iklim sekaligus mendorong lahirnya gerakan kolektif untuk menjaga keberlanjutan bumi.