Haedar Nashir Dorong Konsolidasi RS Muhammadiyah Secara Nasional, Perkuat Ekosistem Kesehatan dan Industri Internal
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya penguatan manajemen dan konsolidasi potensi organisasi untuk memperbesar dampak layanan Muhammadiyah, khususnya di sektor kesehatan. Hal itu disampaikan dalam agenda Halal Bihalal di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (18/4).
Menurut Haedar, Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai organisasi dengan tata kelola yang rapi. Namun, potensi besar yang dimiliki perlu terus disinergikan agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Ia mengapresiasi sejumlah langkah konsolidatif yang mulai berjalan, termasuk pengelompokan Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA) di berbagai daerah. Upaya tersebut dinilai penting dalam memperkuat jaringan layanan kesehatan berbasis organisasi.
“Alhamdulillah dalam praktik sudah mulai, PTMA, rumah sakit RSMA besar sudah mulai bantu. Sudah mulai ada bikin grouping, tapi harus lebih me-nasional,” katanya.
Haedar juga menyoroti langkah PWM Jawa Timur yang mendorong pengembangan jaringan RSMA secara lebih merata. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) yang telah memiliki Amal Usaha Muhammadiyah bidang kesehatan diminta untuk mendampingi daerah lain yang masih merintis.
Ia menekankan bahwa keberhasilan konsolidasi memerlukan keberanian para pimpinan, termasuk direktur rumah sakit, untuk mengesampingkan kepentingan sektoral demi kepentingan organisasi yang lebih besar.
Saat ini, Muhammadiyah memiliki jaringan besar yang mencakup sekitar 130 rumah sakit, 23 fakultas kedokteran, 21 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) unggul, serta 16 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Seluruh potensi tersebut dinilai perlu diintegrasikan dalam satu sistem besar.
“Semua orang itu kagum dengan Muhammadiyah, tapi kita masih belum sampai yang kita harapkan. Kuncinya di kemauan kita mensilaturahmikan seluruh sistem kita dalam satu sistem besar Muhammadiyah,” ungkapnya.
Haedar menambahkan, konsolidasi tersebut tidak lepas dari upaya menghilangkan ego sektoral serta menguatkan semangat silaturahmi yang selama ini menjadi nilai dasar dalam Muhammadiyah. Meski etos tersebut sudah kuat, ia menilai implementasinya masih perlu ditingkatkan.
Selain konsolidasi layanan, Haedar juga mendorong penguatan kemandirian industri kesehatan internal. Ia meminta seluruh jaringan RSMA memprioritaskan penggunaan produk infus yang diproduksi oleh PT Suryavena Farma Indonesia.
“Pabrik infus tidak akan berkembang, biarpun besok saya resmikan bersama Pak Muhadjir, kalau nanti rumah sakit-rumah sakit tidak mau menggunakan hasilnya,” ujarnya.
Saat ini, Muhammadiyah tengah mengembangkan pabrik infus di Mojokerto, Jawa Timur, yang akan menggunakan teknologi dari Italia. Ke depan, fasilitas tersebut juga direncanakan memproduksi alat kesehatan lain seperti jarum suntik dan kasa medis.
Langkah ini menjadi bagian dari penguatan pilar ekonomi Muhammadiyah, dengan orientasi pada kemaslahatan umat. Haedar menegaskan, pengembangan usaha tidak semata mengejar keuntungan, tetapi juga untuk mendukung keberlanjutan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Dengan konsolidasi yang semakin kuat dan dukungan industri internal, Muhammadiyah menargetkan mampu menghadirkan layanan kesehatan yang lebih terintegrasi, berkualitas, dan menjangkau lebih luas di seluruh Indonesia.