Haedar Nashir Minta Pengelola Sekolah Muhammadiyah Miliki Jiwa Irfani dan Keluar Zona Nyaman

Haedar Nashir Minta Pengelola Sekolah Muhammadiyah Miliki Jiwa Irfani dan Keluar Zona Nyaman
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam acara pemancangan batu pertama (groundbreaking) SMP MSUS di Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (21/10). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menginstruksikan seluruh pengelola Amal Usaha Pendidikan (AUP) Muhammadiyah untuk terus memperkuat profesionalisme, meningkatkan standar kualitas, serta berani keluar dari zona nyaman guna menjawab dinamika kebutuhan masyarakat modern.

Amanat strategis tersebut ditegaskan Haedar Nashir di hadapan jajaran pimpinan Persyarikatan dan tokoh masyarakat dalam acara pemancangan batu pertama (groundbreaking) SMP Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Haedar menilai, dinamika ekspektasi publik terhadap institusi pendidikan Persyarikatan bergerak sangat cepat sehingga menuntut kehadiran standar tata kelola di atas rata-rata.

“Masyarakat sekarang itu bergerak dinamis, selalu menuntut untuk lebih, lebih, dan lebih. Itulah yang disebut dengan kualitas yang excellence, kualitas yang unggul di atas rata-rata,” ujar Haedar Nashir di Sleman, Rabu, 21 Oktober 2026.

Turut disaksikan Bupati Sleman Harda Kiswaya, Haedar menggarisbawahi bahwa pembangunan pendidikan tidak boleh berhenti pada kemegahan fisik semata, melainkan wajib diimbangi dengan penguatan ekosistem pembelajaran yang berkemajuan.

Di tengah momentum menjelang Milad ke-114 Muhammadiyah, Haedar mengingatkan pentingnya bersikap objektif dan proporsional dalam menyikapi narasi otokritik terhadap kemajuan amal usaha Persyarikatan.

“Jadi bukan malah membesar-besarkan masalah dan menghilangkan serta mereduksi hasil pembangunan dan kemajuan yang kita raih,” tegas Haedar.

Ia menambahkan, “Dan sering atas nama kritik, otokritik dan apa pun yang disebut dengan proses berpikir (kritis) itu sering kita mengabaikan bangunan besar yang sudah maju, yang sudah unggul, lalu yang terlihat adalah masalah dan biasanya sebagian publik suka dengan itu.”

Sebagai penyeimbang rasionalitas dan daya kritis pengelola sekolah, Haedar menekankan pentingnya merawat jiwa irfani—yakni kepekaan mata hati, kebijaksanaan, dan ketulusan rasa—agar ikhtiar pendidikan Muhammadiyah tidak kehilangan ruh kemanusiaannya.

“Kalau tanpa rasa dan hidup serba rasional, itu namanya ekosistem dan kehidupan robotik. Mudah-mudahan ini menjadi penanda terus bagi kemajuan lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk umat, untuk bangsa, dan untuk kemanusiaan semesta,” pungkas Haedar.