Haedar Nashir: Muhammadiyah Bukan Sekadar Gerakan Purifikasi, tapi Tajdid Berkemajuan

Haedar Nashir: Muhammadiyah Bukan Sekadar Gerakan Purifikasi, tapi Tajdid Berkemajuan
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir saat memberikan amanat penutupan Pengajian Ramadan 1447 H PWM DIY, Ahad (1/3). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa tajdid atau pembaruan dalam Muhammadiyah tidak boleh terjebak pada purifikasi semata, tetapi harus menekankan aspek dinamisasi dan kemajuan.

Pesan itu disampaikan Haedar saat memberikan amanat penutupan Pengajian Ramadan 1447 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ahad (1/3), di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Haedar juga mengapresiasi para wisudawan Sekolah Ideologi Muhammadiyah (SIM). Ia berpesan agar kader Muhammadiyah memperkuat tajdid dalam makna pembaruan yang luas, bukan sekadar pemurnian ajaran.

Menurut Haedar, jika menelusuri sejarah Kiai Ahmad Dahlan, tajdid yang dilakukan pendiri Muhammadiyah itu lebih menekankan pembaruan Islam yang mencerahkan. Bahkan, semangat anti Takhayul, Bid’ah, dan Churafat (TBC) belum menjadi arus utama pada masa awal berdirinya Muhammadiyah.

Ia menjelaskan, Kiai Dahlan memang pernah menyinggung praktik keagamaan yang berlebihan, seperti ziarah kubur yang bersifat ghuluw. Namun, imajinasi besar Kiai Dahlan tentang Muhammadiyah adalah sebagai gerakan modernis dan reformis, sebagaimana juga dicatat oleh sejumlah peneliti dalam dan luar negeri.

“Padahal oleh Majelis Tarjih itu sudah dijelaskan, bahwa tajdid itu purifikasi dan dinamisasi. Harusnya ini sudah jelas,” katanya.

Haedar menilai, dalam perkembangannya, semangat anti-TBC muncul setelah era Kiai Ahmad Dahlan dan kemudian mengalami penyederhanaan di kalangan warga Muhammadiyah. Akibatnya, dakwah amar ma’ruf nahi munkar kerap dipahami secara sempit dan cenderung reaksioner dalam menghadapi persoalan.

Karena itu, sejak tahun 2000, PP Muhammadiyah melahirkan berbagai produk pemikiran untuk mengembalikan Muhammadiyah pada kerangka berpikir utama sebagai gerakan Islam berkemajuan.

Di akhir amanatnya, Haedar mendorong PWM DIY untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. Menurutnya, Yogyakarta memiliki potensi besar karena menjadi tempat kelahiran Muhammadiyah pada 1912, meskipun wilayah administrasinya relatif kecil dibanding provinsi lain.

“DIY ini kan potensial, terlebih sejarah Muhammadiyah ini lahir di Yogyakarta. Tapi jangan lengah dan jangan merasa di zona nyaman,” pesannya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua PWM DIY, Ikhwan Ahada, menyampaikan bahwa institusi pendidikan Muhammadiyah di Yogyakarta terus menunjukkan prestasi, termasuk meraih juara umum pada ajang Olimpiade Ahmad Dahlan di Makassar beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, PWM DIY juga memperkuat ideologi, kaderisasi, dan pemikiran melalui Sekolah Ideologi Muhammadiyah. Program ini diharapkan melahirkan kader yang tidak berhenti pada tataran dakwah normatif, melainkan mampu berijtihad dan melakukan tajdid.

“Bermuhammadiyah itu tidak boleh mandek pada tataran amar ma’ruf nahi munkar…… Tapi untuk berijtihad dan tajdid,” harap Ikhwan kepada lulusan SIM.

PWM DIY juga menyampaikan apresiasi kepada UAD yang menjadi tuan rumah Pengajian Ramadan 1447 H tersebut.

Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi ideologi dan penguatan arah gerakan Muhammadiyah di Yogyakarta agar tetap relevan sebagai gerakan pembaruan Islam di tengah dinamika zaman.