Haedar Nashir Tegaskan Pentingnya Integrasi Sains dan Spiritualitas dalam Membangun Peradaban

Haedar Nashir Tegaskan Pentingnya Integrasi Sains dan Spiritualitas dalam Membangun Peradaban
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam dialog strategis ulama dan ilmuwan Indonesia–Malaysia yang digelar di Auditorium Hotel Seri Malaysia, Kangar, Perlis, Selasa (26/11). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya menyatukan kemajuan sains dengan kedalaman spiritualitas dalam membangun peradaban modern.

Penegasan itu ia sampaikan pada dialog strategis ulama dan ilmuwan Indonesia–Malaysia yang digelar di Auditorium Hotel Seri Malaysia, Kangar, Perlis, Selasa (26/11).

Haedar menuturkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak boleh dipisahkan dari nilai-nilai spiritual, sebagaimana spiritualitas juga tidak bisa bergerak tanpa berpijak pada perkembangan sains.

“Momentum Milad ke-113 Muhammadiyah dan ke-4 Universiti Muhammadiyah Malaysia ini mengingatkan kita bahwa sains tidak boleh dibiarkan berkembang tanpa roh spiritual, sebagaimana spiritualitas tidak boleh terlepas dari dinamika kemajuan sains,” ujarnya.

Kegiatan bertema “Membaca Kembali Ayat-Ayat Semesta untuk Kebangkitan Peradaban” ini dihadiri para rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Indonesia serta sejumlah perguruan tinggi di Perlis. Dialog tersebut menekankan integrasi ilmu modern dengan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi peradaban maju.

Haedar menjelaskan bahwa selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah terus menghadirkan Islam Berkemajuan sebagai paradigma yang memadukan kecanggihan intelektual dengan spiritualitas. Ia mencontohkan kontribusi tersebut melalui berbagai amal usaha.

“Melalui 172 perguruan tinggi, ratusan rumah sakit, ribuan sekolah, serta kehadiran UMAM yang memasuki usia ke-4 tahun, Muhammadiyah menunjukkan bahwa Islam mampu menjawab tantangan zaman secara kreatif dan inovatif tanpa tercerabut dari akar tradisinya,” katanya.

Menurut Haedar, capaian itu menjadi bukti komitmen Muhammadiyah dalam membangun peradaban berbasis nilai Qurani dan tetap relevan dengan kebutuhan global.

Ia menekankan bahwa Islam rahmatan lil ‘alamin selalu memungkinkan dialog dengan budaya lokal.

“Seperti Islam di Eropa yang berakulturasi sambil menjaga prinsip dasarnya, Islam di Nusantara juga memiliki karakter wasathiyah yang memungkinkan interaksi harmonis dengan modernitas,” jelasnya.

“Kemampuan adaptif inilah yang memperkaya khazanah Islam global dan membuktikan bahwa Islam diturunkan untuk semua zaman dan bangsa,” imbuhnya.

Mufti Perlis, Dato’ Dr. Mohd. Asri bin Zainul Abidin (Dato’ Maza), turut memberikan apresiasi terhadap peran Muhammadiyah dalam dakwah dan pemikiran Islam.

“Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, tetapi gerakan peradaban yang inspiratif. Pencapaian 113 tahun Muhammadiyah dan kemajuan Universiti Muhammadiyah Malaysia menjadi bukti ketahanan dan relevansi gerakan ini,” ujarnya.