Salmah Orbayinah: Ulama Harus Hadir Menjawab Persoalan Sosial dan Tantangan Zaman

Salmah Orbayinah: Ulama Harus Hadir Menjawab Persoalan Sosial dan Tantangan Zaman
Ketua Umum PP Aisyiyah, Salmah Orbayinah saat membuka Konferensi dan Silaturahmi Nasional Ulama ‘Aisyiyah di SM Tower Malioboro, Senin (18/5/2026). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) 'Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menegaskan bahwa ulama tidak cukup hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga harus mampu hadir menjawab berbagai persoalan sosial, kemanusiaan, dan tantangan kehidupan modern.

Pernyataan itu disampaikan Salmah saat membuka Konferensi dan Silaturahmi Nasional Ulama ‘Aisyiyah di SM Tower Malioboro, Senin (18/5/2026).

Dalam sambutannya, Salmah menjelaskan konsep ulama memiliki makna luas dan tidak terbatas pada penguasaan ilmu-ilmu keagamaan semata. Ia mengutip pandangan almarhum Azyumardi Azra yang menyebut ulama sebagai sosok berilmu tanpa dibatasi bidang keilmuan tertentu.

Namun, menurutnya, dalam perkembangan masyarakat istilah ulama lebih sering dilekatkan pada mereka yang mendalami disiplin ilmu seperti fikih, tafsir, hadis, dan bahasa Arab.

Salmah menegaskan hakikat ulama bukan hanya memahami ilmu, melainkan juga mengajarkannya kepada masyarakat serta menjadi penerang di tengah persoalan kehidupan.

“Ulama harus menjadi cahaya di tengah masyarakat dan memiliki moral serta akhlak yang mulia,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa istilah ulama bersifat netral dan tidak dibatasi jenis kelamin. Karena itu, perempuan yang memiliki kapasitas keilmuan dan kompetensi keagamaan juga layak disebut sebagai ulama.

Menurut Salmah, penggunaan istilah “Ulama ‘Aisyiyah” merujuk pada kader perempuan yang memiliki kemampuan keilmuan, kepedulian sosial, dan kapasitas memberikan panduan keagamaan bagi masyarakat.

Forum nasional tersebut, lanjutnya, menjadi ruang konsolidasi pemikiran untuk memperkuat perspektif tarjih yang responsif terhadap persoalan kontemporer.

Dalam paparannya, Salmah juga menyoroti sejarah panjang ulama perempuan dalam tradisi Islam. Ia menyebut tokoh-tokoh seperti Aisyah binti Abu Bakar yang meriwayatkan ribuan hadis, Ummu Salamah, hingga sufi perempuan Rabiah al-Adawiyah sebagai contoh penting kontribusi perempuan dalam perkembangan keilmuan Islam.

Di Indonesia, Salmah menyebut tokoh perempuan Muslim seperti Rasuna Said, Rahmah El Yunusiyyah, dan Siti Walidah yang dinilai berhasil membangun dakwah berbasis pendidikan dan pelayanan sosial.

Menurutnya, Siti Walidah menjadi teladan penting karena menghadirkan dakwah melalui gerakan amal saleh yang berkelanjutan di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Salmah menambahkan, pemikiran ulama ‘Aisyiyah ke depan harus mampu menjawab isu-isu strategis keumatan dan kebangsaan, termasuk persoalan keluarga sakinah, kekerasan dalam rumah tangga, perundungan, hingga meningkatnya fenomena generasi muda yang kehilangan arah hidup.

“Peradaban bisa terputus jika generasi muda kehilangan arah,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan perempuan dan anak, termasuk menjawab persoalan keluarga modern seperti hubungan jarak jauh dan pembagian warisan dengan pendekatan maslahat yang sesuai kebutuhan masyarakat.

Menurut Salmah, pemikiran Islam Berkemajuan yang dikembangkan ‘Aisyiyah tidak boleh berhenti pada aspek normatif, tetapi harus mampu berdialog dengan realitas sosial agar melahirkan fikih yang membawa kemaslahatan.

“Islam harus hadir untuk memuliakan manusia,” ujarnya.