Irwan Akib: Iptek Tanpa Iman Bisa Rusak Peradaban, Pendidikan Harus Integratif

Irwan Akib: Iptek Tanpa Iman Bisa Rusak Peradaban, Pendidikan Harus Integratif
Ketua PP Muhammadiyah Irwan Akib dalam tausiyah di Masjid Islamic Center UAD, Rabu (19/2/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Irwan Akib menegaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) harus dibarengi dengan nilai keimanan dan kesadaran moral. Tanpa landasan transendental yang dibimbing wahyu, perkembangan teknologi berpotensi menimbulkan kerusakan peradaban.

Hal itu disampaikan Irwan dalam tausiyah pada Rabu (19/2/2026) di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta.

Menurut Irwan, kemajuan iptek ibarat buah simalakama. Di satu sisi memudahkan kehidupan manusia, namun di sisi lain bisa menjadi ancaman jika berada di tangan pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Tetapi ketika ilmu dan teknologi itu ada di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, maka justru akan merusak peradaban dan seterusnya,” kata Irwan.

Karena itu, ia mendorong agar penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berada di tangan orang-orang beriman. Menurutnya, iptek tidak boleh bebas nilai, melainkan harus berpijak pada nilai ketuhanan yang membebaskan dan memajukan kehidupan manusia.

Irwan menekankan pentingnya pendidikan yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan pembinaan spiritual. Generasi muda, kata dia, adalah pemimpin masa depan yang akan menentukan arah peradaban.

“Kita ingin Indonesia ini, kita ingin teknologi ini dikuasai oleh orang-orang yang beriman, dikuasai oleh anak-anak kita ke depannya, maka sangat tergantung pada pendidikan yang kita berikan pada hari ini,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, konsep pendidikan integratif sejatinya telah dipelopori pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan, sejak 1911. Pada masa itu, sistem pendidikan dunia masih cenderung dikotomis antara ilmu agama dan ilmu umum. Namun Kiai Dahlan telah merintis model pendidikan yang memadukan keduanya.

“Sebagaimana yang disampaikan oleh Kiai Dahlan, jadilah ulama yang intelek dan intelek yang ulama. Artinya bahwa anak-anak kita, peserta didik kita, mahasiswa kita di samping mengetahui, memahami pengetahuan umum, menguasai ilmu dan teknologi juga tidak lepas dari nilai-nilai transendental. Dia tetap harus dipandu oleh wahyu,” katanya.

Semangat pendidikan integratif tersebut kemudian ditegaskan kembali dalam Muktamar ke-45 Muhammadiyah di Yogyakarta, yang menegaskan bahwa pendidikan Muhammadiyah bertujuan membebaskan manusia dari keterbelakangan dan kebodohan.

Irwan menambahkan, pendidikan Muhammadiyah saat ini terus ditata agar mampu melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu dan teknologi, tetapi juga memiliki fondasi agama yang kuat. Dengan demikian, inovasi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat nyata bagi kemajuan bangsa dan peradaban global.