KBIHU ‘Aisyiyah Perkuat Paskuda, Dukung Jemaah Haji Lansia dan Risiko Tinggi
TVMU.TV - Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Aisyiyah kembali menggulirkan program Pasukan Kursi Roda (Paskuda) untuk mendukung pelayanan jemaah haji lanjut usia dan risiko tinggi pada musim haji 2026. Program ini salah satunya diterapkan bagi jemaah asal Gunungkidul yang tergabung dalam Kloter YIA 10.
Program Paskuda telah berjalan selama beberapa tahun terakhir dan menjadi salah satu ikhtiar pendampingan ibadah bagi jemaah yang membutuhkan bantuan mobilitas selama berada di Tanah Suci. Kehadiran program ini dinilai semakin relevan seiring meningkatnya jumlah jemaah lansia dan risiko tinggi dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Pembimbing KBIHU ‘Aisyiyah, Faizu Sabani, menjelaskan inisiatif tersebut berkembang setelah pemerintah mencanangkan program Haji Ramah Lansia pada 2023. Menurutnya, meski kebijakan tersebut telah berjalan, dukungan di lapangan tetap diperlukan, terutama pada aspek pendampingan dan mobilitas jemaah.
“Jumlah jemaah lansia dan risti terus bertambah, sementara fasilitas pendukung pada saat itu masih kurang memadai. Inilah yang melatarbelakangi kami untuk terus konsisten menjalankan Paskuda,” kata Faizu dalam keterangan tertulisnya, seperti dikutip tvMu, Ahad (10/5/2026).
Pada musim haji tahun ini, KBIHU ‘Aisyiyah memperkuat armada dengan membeli enam unit kursi roda baru sesaat setelah tiba di Madinah. Sementara itu, di Makkah telah tersedia sekitar 12 unit kursi roda yang siap digunakan selama rangkaian ibadah jemaah.
Program Paskuda menawarkan alternatif layanan yang lebih terjangkau dibandingkan jasa sewa kursi roda di Makkah yang tarifnya cenderung tidak menentu. Jemaah cukup memberikan kontribusi sukarela atau sekitar 250 riyal Arab Saudi.
Menurut Faizu, kontribusi tersebut bukan sekadar biaya sewa. Kursi roda yang digunakan nantinya dihibahkan atau ditinggalkan di hotel agar dapat dimanfaatkan kembali oleh jemaah umrah setelah musim haji berakhir.
“Banyak kursi roda kami yang pada akhirnya bermanfaat bagi jemaah lain. Setiap unit sudah diberi stiker penanda khusus agar mudah dikenali. Sehingga ketika kami kembali ke Tanah Suci untuk umrah, banyak kursi roda kami yang digunakan oleh jemaah. Rasanya bahagia sekali. Ini yang kami sebut investasi,” tambahnya.
Nilai lain yang menjadi keunggulan Paskuda adalah tumbuhnya ikatan emosional antarsesama jemaah. Berbeda dengan jasa pendorong eksternal, tenaga pendorong berasal dari anggota kloter yang sama, sehingga proses pendampingan berlangsung lebih akrab dan penuh semangat saling membantu.
Selama proses pendorongan, para pendamping juga membimbing jemaah lansia melafalkan doa-doa sepanjang perjalanan. Pendampingan spiritual tersebut dinilai menjadi pengalaman tersendiri yang tidak selalu diperoleh melalui layanan umum.
Meski saat ini pemerintah telah menambah fasilitas kursi roda, tantangan utama tetap terletak pada keterbatasan jumlah petugas dibandingkan dengan banyaknya jemaah lansia. Karena itu, kehadiran pendamping dari sesama jemaah dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung kelancaran ibadah, terutama saat umrah wajib dan puncak haji di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Faizu menegaskan, semangat program Paskuda dirangkum dalam jargon “Senyummu Bahagiaku”. Menurutnya, kolaborasi antara jemaah, pembimbing, dan petugas lapangan menjadi bagian penting dalam mewujudkan layanan haji yang ramah bagi jemaah lansia dan risiko tinggi. (Fini Auliany/ MCH 2026)