Ketua Majelis Tabligh: Tauhid Bukan Sekadar Hafalan dan Debat Media Sosial
TVMU.TV - Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, menegaskan bahwa pemahaman tauhid dalam Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada hafalan dalil atau perdebatan intelektual di media sosial.
Pernyataan ini disampaikannya dalam Pengajian Qabla Ramadan yang digelar pada Hari Bermuhammadiyah ke-8 se-Kota Depok, Ahad (1/2).
“Tauhid di Muhammadiyah itu bukan hafalan memori intelektual kognitif; pintar-pintaran yang seperti sekarang ini di sosial media orang berdebat. Sebagai perdebatan akademik boleh, tapi untuk melibatkan awam saya sebagai seorang mubalig tidak setuju,” katanya.
Fathurrahman menjelaskan bahwa tauhid seharusnya berdampak nyata pada sikap, etika, dan akhlak kehidupan.
“Tauhid dalam pandangan Muhammadiyah adalah tauhid yang berimpak pada sikap, etis, dan akhlak kehidupan,” ungkapnya.
Ia mengkritisi perdebatan tauhid yang justru dapat memecah belah umat, terutama ketika diperbincangkan di ruang publik.
Ia juga menyoroti fenomena kesalehan publik yang cenderung dipertontonkan dengan sikap keras dan klaim otentisitas.
“Saya ingin mengatakan kalau Islam itu selesai pada klaim, maka orang-orang munafik di Madinah itu yang pertama masuk surga. Kalau Islam berhenti pada klaim dan brand. Hari ini Islam dieksploitasi sebagai sebuah brand,” katanya.
Oleh karena itu, Fathurrahman berpesan kepada para mubalig Muhammadiyah untuk berhati-hati dalam menampilkan diri di ruang publik dan tidak mudah mengkafirkan atau membid'ahkan sesama muslim.
“Umat tidak butuh itu. Perdebatan-perdebatan itu tolong dimasukkan di ruang ilmu, bukan di ruang masyarakat,” tegasnya.
Pesan ini menekankan pentingnya pendekatan dakwah yang menyejukkan, menekankan substansi akhlak, dan menghindari polarisasi yang dapat merusak persatuan umat.