MDMC Ungkap Tantangan Berat Relawan Muhammadiyah Tangani Banjir dan Longsor di Sumatera

MDMC Ungkap Tantangan Berat Relawan Muhammadiyah Tangani Banjir dan Longsor di Sumatera
Ilustrasi relawan Muhammadiyah/ Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Relawan Muhammadiyah menghadapi berbagai tantangan serius dalam mendampingi korban bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Hingga Kamis (22/1), bencana tersebut tercatat berdampak pada 53 kabupaten dan kota, dengan jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.200 orang, 143 orang dinyatakan hilang, serta 113,9 ribu warga terpaksa mengungsi.

Selain menimbulkan korban jiwa, bencana juga menyebabkan kerusakan infrastruktur secara masif. Tercatat sebanyak 215 fasilitas kesehatan, 4.646 fasilitas pendidikan, dan 803 rumah ibadah mengalami kerusakan. Dampak lainnya meliputi rusaknya 810 jembatan dan 2.164 ruas jalan, serta 175.050 rumah warga yang terdampak.

Merespons kondisi tersebut, Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) telah memberikan pelayanan kemanusiaan kepada 80.526 jiwa yang tersebar di 250 titik layanan hingga 10 Januari. Dalam penanganan ini, sebanyak 526 relawan diterjunkan ke wilayah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Layanan yang diberikan mencakup layanan kesehatan, dukungan psikososial, distribusi logistik, WASH (air bersih, sanitasi, dan kesehatan lingkungan), pendidikan, penyediaan shelter, hingga operasional dapur umum.

Data dan kondisi tersebut disampaikan Wakil Sekretaris MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Santoso, dalam diskusi bertajuk Memperkuat Ketangguhan Umat: Peran Muhammadiyah dalam Merespons Bencana Banjir di Sumatera yang diselenggarakan Pusat Studi Muhammadiyah (PSM), Kamis (22/1).

Budi menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah skala dan luas wilayah terdampak yang terjadi secara bersamaan di tiga provinsi. Tantangan lainnya adalah kondisi geografis yang menyulitkan akses menuju lokasi bencana.

“Menurut Budi, akses lokasi terdampak tidak mudah dijangkau. Perlu menggunakan kendaraan roda. Bahkan, beberapa titik harus jalan kaki karena untuk akses roda transportasi roda dua dan roda empat tidak bisa digunakan.”

Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia, terutama tenaga kesehatan, menjadi kendala tersendiri dalam proses penanganan darurat yang berlangsung dalam waktu panjang.

“Saya kira bahwa dalam satu waktu membutuhkan sumber daya yang besar di tiga wilayah terdampak yang kemudian harus menghadirkan sekian relawan dalam satu waktu dengan durasi yang panjang,” jelas Budi.

Ia menambahkan, tantangan lain yang dihadapi relawan adalah ketersediaan bahan pendukung untuk pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, termasuk pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga terdampak.

“Kemudian dari sisi yang lain, budaya. Respons Muhammadiyah selalu juga mengedepankan partisipatif. Jadi melibatkan warga lokal untuk ikut serta dalam proses-proses penanganan dan juga pemulihan,” jelas Budi.

Dengan jaringan MDMC yang telah terbentuk di hampir seluruh wilayah Indonesia, Budi mengajak seluruh elemen Persyarikatan Muhammadiyah untuk terus menguatkan ikhtiar bersama dalam penanganan kebencanaan.

“Mari terus kita menggalang secara bersama-sama berjamaah di Persyarikatan untuk terbangunnya Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh yang kembali bangkit, kembali bergeliat gerakan roda organisasi Persyarikatan Muhammadiyah-nya dan juga syiar dakwah Muhammadiyah di sana,” harapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Badan Pengurus Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu), Ahmad Imam Mujadid Rais, menyoroti tantangan serupa yang dihadapi Lazismu dalam merespons bencana, terutama terkait koordinasi dan sinergi.

“Tentunya ini penting, koordinasi dan sinergi, terutama dengan BNPB, dengan pemerintah setempat dengan Pemda. Kemudian juga dengan lembaga-lembaga filantropi yang lain atau filantropis individu. Nah ini gimana supaya bantuan ini tidak menumpuk, tidak dobel gitu ya,” beber Ahmad.

Ia juga menekankan pentingnya akuntabilitas dalam pengelolaan bantuan kemanusiaan sebagai bentuk menjaga kepercayaan publik.

“Kami sebagai lembaga filantropi Islam di Persyarikatan Muhammadiyah itu harus betul-betul menjaga trust, amanah dari para muzakki ataupun donatur kita dan sebisa mungkin segera melaporkan,” tegasnya.