Muhammad Sayuti: Reputasi Ilmiah PTMA Adalah Dakwah Muhammadiyah di Era Modern

Muhammad Sayuti: Reputasi Ilmiah PTMA Adalah Dakwah Muhammadiyah di Era Modern
Sekretaris PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti dalam kegiatan Baitul Arqam Pejabat Struktural UMY, Selasa (3/2). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Muhammad Sayuti menegaskan bahwa penguatan reputasi akademik dan riset perguruan tinggi Muhammadiyah merupakan bagian penting dari dakwah Islam berkemajuan di era modern. Menurutnya, dakwah Muhammadiyah saat ini tidak lagi terbatas pada ceramah di mimbar, tetapi juga diwujudkan melalui kualitas pendidikan, publikasi ilmiah, pengabdian masyarakat, serta tata kelola kampus yang unggul dan berdaya saing global.

Hal tersebut disampaikan Sayuti dalam kegiatan Baitul Arqam Pejabat Struktural Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang digelar pada Selasa (3/2/2026).

“Membangun reputasi ilmiah kampus hari ini telah menjadi bagian dari dakwah. Riset, pengabdian, dan kinerja akademik merupakan wujud dakwah rahmatan lil ‘alamin di era modern,” ujar Sayuti.

Ia menilai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) memiliki posisi strategis sebagai media dakwah yang dapat menjangkau ruang publik nasional hingga internasional. Melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, PTMA dinilai mampu membangun peradaban Islam berkemajuan, sekaligus memperkuat kontribusi Muhammadiyah dalam pembangunan bangsa.

Menurut Sayuti, keberadaan UMY menjadi contoh penting karena berada pada titik temu antara pengembangan ilmu pengetahuan, internalisasi nilai-nilai keislaman, serta tanggung jawab kebangsaan. Ia menekankan bahwa capaian akademik kampus tidak boleh dilepaskan dari misi ideologis Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.

Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad tidak bertumpu pada kekayaan material, melainkan pada nilai ideologis yang menjadi energi penggerak organisasi. Hal tersebut terlihat dari konsistensi Muhammadiyah dalam membangun ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, serta memperluas jaringan dakwah hingga ke tingkat global.

Dalam pandangannya, PTMA tidak boleh terjebak pada capaian administratif atau sekadar mengejar pengakuan nasional. Sayuti mendorong agar kampus-kampus Muhammadiyah menjadikan standar global sebagai rujukan utama, khususnya dalam pengembangan riset, publikasi internasional, dan inovasi.

“Tantangan utama PTMA ke depan adalah membangun reputasi riset kelas dunia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan medan perjuangan yang paling relevan saat ini,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sayuti menekankan bahwa seluruh aktivitas akademik di PTMA—mulai dari mengajar, meneliti, hingga mengelola institusi—harus dipahami sebagai amanah dakwah. Ia menyebut pejabat struktural dan dosen tidak cukup hanya bekerja secara profesional dalam aspek administratif, tetapi juga harus memiliki kesadaran ideologis dalam menjalankan perannya.

“Ini bukan institusi biasa. Kampus membawa nama Muhammadiyah dan Islam di ruang publik global. Karena itu, bekerja di PTMA tidak cukup hanya sekadar menggugurkan kewajiban,” pungkas Sayuti.