Muhammadiyah Apresiasi Langkah Toleransi di Bali Saat Idulfitri Bertepatan Nyepi

Muhammadiyah Apresiasi Langkah Toleransi di Bali Saat Idulfitri Bertepatan Nyepi
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam kegiatan Silaturahmi Ramadan 1447 H bersama media di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (16/3). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengapresiasi langkah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali dalam menjaga harmoni saat Idulfitri bertepatan dengan Hari Suci Nyepi. Kebijakan tersebut dinilai sebagai contoh konkret toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan bahwa PWM Bali mengikuti kesepakatan yang disusun bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), termasuk pengaturan teknis pelaksanaan takbiran agar tetap menjaga ketenangan saat Nyepi.

“Kami peroleh informasi dari Bali, bahkan Muhammadiyah Denpasar, Kota Denpasar, bahkan menginstruksikan bukan hanya takbiran di masjid, bahkan diusahakan khusus tahun ini takbiran di rumah masing-masing dengan tetap lirih, tidak perlu keluar secara mencolok gitu,” kata Haedar di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (16/3).

Menurutnya, pelaksanaan salat Idulfitri tetap dapat dilakukan secara tertib karena telah ada kesepakatan bersama antara panitia hari besar Islam dan pemerintah daerah setempat.

“Jadi itu satu contoh. Tapi untuk salat Id, itu kan bisa dilakukan tertib karena ada kesepakatan bersama PHBI dan Pemda. Saya pikir hal yang sangat positif gitu,” sambungnya.

Haedar menilai, praktik toleransi lintas iman yang ditunjukkan di Bali merupakan bagian dari upaya panjang Muhammadiyah dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis. Meski demikian, ia mengingatkan masih ada sejumlah pekerjaan rumah besar yang perlu diselesaikan oleh Muhammadiyah.

Salah satu tantangan utama, lanjutnya, adalah peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan ekonomi umat yang dinilai masih tertinggal.

“Menjadi agenda prihatin Muhammadiyah. Satu, mempercepat proses kecerdasan lewat pendidikan dengan membangun pusat-pusat keunggulan di bidang pendidikan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa persoalan pendidikan berkaitan erat dengan kondisi kesehatan dan kualitas lingkungan masyarakat. Rendahnya tingkat literasi, menurutnya, kerap berdampak pada berbagai aspek kehidupan sosial.

Di sektor ekonomi, Haedar menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan umat menjadi isu krusial yang perlu mendapat perhatian serius.

“Selama umat Islam yang mayoritas ini masih banyak yang kehidupan ekonominya belum berkecukupan, maka ini akan berdampak pada aspek-aspek lain. Maka menjadi niscaya Muhammadiyah terus melakukan usaha-usaha pengembangan ekonomi bisnis yang menyasar dan kita harapkan membangun kesejahteraan masyarakat di bawah,” ujarnya.

Sebagai bagian dari solusi, Muhammadiyah juga menyatakan dukungan terhadap kebijakan pemerintah dalam memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang dinilai sebagai kelompok usaha paling rentan sekaligus strategis dalam menggerakkan ekonomi masyarakat.

Haedar menekankan bahwa upaya memajukan UMKM membutuhkan kebijakan yang progresif dan berkelanjutan, serta dijalankan secara simultan agar dapat memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan umat.