PP Muhammadiyah Gelar Acara Malam Gembira Puisi Merdeka Dihadiri Sastrawan Legendaris Indonesia

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar acara Malam Gembira Puisi Merdeka di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (26/8).

PP Muhammadiyah Gelar Acara Malam Gembira Puisi Merdeka Dihadiri Sastrawan Legendaris Indonesia
Sastrawan Muhammadiyah, Taufik Ismail saat menghadiri acara Malam Gembira Puisi Merdeka di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (26/8). FOTO: Istimewa.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar acara Malam Gembira Puisi Merdeka di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (26/8).

Acara tersebut dihadiri para sastrawan legendaris Indonesia seperti Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, serta dua orang penyair Muhammadiyah Taufik Ismail dan Abdul Hadi WM.

Selain itu turut hadir Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto, Rektor UMT, Rektor UMJ, dan Rektor UHAMKA serta tamu undangan lainnya yanh juga ikut menggembirakan acara dengan bergantian membaca puisi.

Dalam sambutannya, budayawan Muhammadiyah Kusen mengatakan diselenggarakannya acara ini merupakan sebuah ungkapan syukur atas dua hal, yaitu status endemi dan kemerdekaan Indonesia.

“Acara ini penanda bahwa pandemi sudah berakhir dan karena itu kita mesti gembira,” ucapnya.

Selanjutnya, pria yang akrab disapa Kiai Cepu itu mengatakan acara ini sebagai penegasan bahwa Muhammadiyah tidak anti budaya. Sebaliknya, Muhammadiyah justru memiliki banyak tokoh-tokoh yang aktif dalam bidang pelestarian seni dan budaya kendati minim sorotan.

“Bagaimana cara gembiranya? ya lewat budaya. Kalau selama ini (perayaan 17 Agustus) diadakan seremonial kenapa tidak kita melakukan lewat budaya. Sehingga dari sini Muhammadiyah menguatkan bahwa Muhammadiyah tidak anti budaya dan ini adalah bukti dan simbol bahwa Muhammadiyah selalu mengawal kebudayaan Indonesia,” tandasnya.

Dalam acara tersebut juga, Taufik Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri pun ikut menyumbang puisi. Taufik Ismail membacakan karya puisinya yang berjudul Dialog dengan Cucu-cucu Ku. Lalu Sutardji membacakan puisi Tanah Air Mata.