Rakernas LRB 2026, Muhammadiyah Padukan Teknologi Society 5.0 dan Kearifan Lokal untuk Mitigasi Bencana
TVMU.TV - Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menegaskan pentingnya memadukan pemanfaatan teknologi modern Society 5.0 dengan kearifan lokal guna menghadapi ancaman bencana alam dan krisis iklim yang kian kompleks.
Pesan strategis tersebut mengemuka dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LRB Muhammadiyah 2026 yang berlangsung di Aula Saraswati, Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya Yogyakarta pada Jumat, 11 September 2026.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada respons darurat belaka. Menurutnya, kesiapsiagaan serta penanggulangan bencana harus diintegrasikan ke dalam ekosistem pembangunan nasional demi mewujudkan Indonesia yang berkemajuan.
“Bencana ternyata tidak sekadar kita menghadapi peristiwa, tapi harus kita letakkan juga dalam sebuah ekosistem dan sistem untuk membangun bangsa. Bagaimana kita bisa membangun bangsa makin maju sehingga menjadi bangsa yang berkemajuan,” jelas Haedar.
Ketua LRB PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, menyampaikan bahwa eskalasi bencana—mulai dari gempa bumi, banjir, erupsi, hingga krisis iklim—menuntut Muhammadiyah mengalokasikan modal sosial dan jaringannya secara terstruktur.
“Kekuatan Muhammadiyah ada pada jaringan dan kepercayaan publik, oleh karena itu perlu penyatuan langkah,” ucap Budi.
Budi mendorong modernisasi sistem kebencanaan melalui pemanfaatan data digital, pemetaan risiko berbasis teknologi, hingga tata kelola relawan yang terintegrasi. Kendati demikian, ia mengingatkan agar lompatan teknologi tersebut tidak melepaskan diri dari nilai-nilai tradisi dan budaya lokal.
“Teknologi tanpa akar budaya akan kering. Kearifan lokal seperti lumbung pangan dan gotong royong adalah modal besar bersama,” ujarnya.
Melalui Rakernas 2026 ini, LRB PP Muhammadiyah menargetkan lahirnya keputusan strategis yang dapat diimplementasikan hingga tingkat daerah. Penguatan kapasitas tersebut bakal diwujudkan lewat pelatihan kebencanaan, simulasi rutin, kaderisasi relawan, serta program kerja terukur berbasis data di seluruh pelosok Tanah Air.
