Saad Ibrahim: Al-Qur’an Sumber Penyembuh Hakiki bagi Kesehatan Jiwa
TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Kiai Saad Ibrahim menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber penyembuh yang hakiki, terutama dalam menjaga dan memulihkan kesehatan jiwa manusia.
Pesan tersebut disampaikannya saat mengisi Kajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ngawi, Ahad (4/1), dengan tema “Membumikan Risalah Islam Berkemajuan, Mencerahkan Ngawi Ramah.”
Dalam pengajiannya, Saad menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai kalam Allah, tetapi juga menjadi pedoman hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk kesehatan mental dan spiritual. Menurutnya, kesehatan fisik sangat ditentukan oleh kondisi jiwa yang sehat, yang bermula dari cara pandang dan pola pikir.
“Jangan dengki. Dengki akan menyebabkan jiwa kita terganggu, dan akibatnya fisik kita juga ikut terganggu,” tegasnya.
Ia menambahkan, Al-Qur’an memberikan panduan untuk membentuk jiwa yang tenang dan seimbang. Dengan jiwa yang sehat, manusia mampu menjalani kehidupan secara lebih baik dan produktif.
Menguatkan pandangannya, Saad mengutip pemikiran ilmuwan Muslim Ibnu Sina yang meyakini bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan dalam kondisi sehat. Sakit, menurutnya, merupakan kondisi yang tidak alami dan dapat muncul akibat berbagai sebab, meskipun pada akhirnya Allah tetap menjadi penentu utama.
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,” ujar Saad mengutip firman Allah dalam QS Asy-Syu‘ara ayat 80.
Saad juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an secara tegas menyebut konsep syifa atau penyembuh sebanyak empat kali, yakni dalam QS Yunus ayat 57, QS An-Nahl ayat 69, QS Fushshilat ayat 44, dan QS Al-Isra ayat 82. Ayat-ayat tersebut, katanya, menegaskan posisi Al-Qur’an sebagai penawar bagi penyakit jiwa dan kehidupan manusia.
“Salah satu sifat Al-Qur’an adalah sebagai basis penyembuhan bagi jiwa kita,” ujarnya.
Merujuk kembali pada QS Asy-Syu‘ara ayat 78–80, Saad menegaskan bahwa kesembuhan sepenuhnya berada dalam kehendak Allah. Tugas manusia adalah berikhtiar dengan menjalankan perintah-Nya, sementara Al-Qur’an menjadi sarana dan jalan menuju kesembuhan tersebut.
Di akhir kajian, Saad mengajak jamaah untuk meneguhkan komitmen berinteraksi dengan Al-Qur’an, salah satunya dengan membaca atau melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an secara rutin dan berurutan, mulai dari Al-Fatihah hingga An-Nas.
“Walaupun tidak paham maknanya, tidak apa-apa, karena itu sudah menjadi bagian dari proses penyembuhan,” tandasnya.