Saad Ibrahim Tegaskan Tauhid sebagai Basis Islam Berkemajuan
TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Saad Ibrahim, menegaskan bahwa tauhid merupakan puncak ajaran Islam sekaligus ruh kemajuan Persyarikatan dalam menggerakkan dakwah dan amal usaha Muhammadiyah.
Pernyataan itu disampaikan dalam Materi I Pengajian Ramadan 1447 Hijriah PP Muhammadiyah bertajuk “Genealogis Pemikiran Akidah di Muhammadiyah: Tinjauan Teologi Islam Klasik” yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (20/2/2026).
Dalam pemaparannya, Saad menjelaskan bahwa syirik merupakan lawan dari tauhid dan menjadi dosa besar yang tidak diampuni Allah SWT apabila tidak disertai pertobatan sebelum wafat. Ia merujuk pada Surah An-Nisa ayat 48 dan 116, serta Surah Al-Anbiya ayat 29 sebagai dasar teologis.
“Barang siapa di antara mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Allah,’ maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam. Demikianlah Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang yang zalim,” jelasnya mengutip ayat tersebut.
Saad juga menguraikan historisitas munculnya praktik syirik dalam perjalanan umat manusia. Menurutnya, sejak masa Nabi Adam hingga Nabi Nuh, ajaran tauhid masih terjaga. Namun dalam perkembangan berikutnya, manusia mulai membuat patung sebagai simbol penghormatan yang lambat laun berubah menjadi objek sesembahan.
“Di sinilah kita melihat bagaimana perjalanan sejarah syirik, yang merupakan lawan dari tauhid,” ujarnya.
Lebih lanjut, Saad menegaskan bahwa tauhid menjadi fondasi utama gerakan Muhammadiyah sejak didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan pada 1912. Seluruh bangunan pemikiran, dakwah, dan amal usaha Persyarikatan bertumpu pada pemahaman tauhid yang murni.
“Tauhid merupakan pokok dan kepala dalam ajaran agama. Dari pemahaman tauhid inilah seluruh bangunan pemikiran dan gerakan Muhammadiyah bertumpu,” tegasnya.
Ia menambahkan, kemajuan yang diusung Muhammadiyah bukanlah kemajuan yang lepas dari nilai agama, melainkan kemajuan yang berakar kuat pada ajaran tauhid. Konsep Islam Berkemajuan, menurutnya, menempatkan akidah sebagai dasar dalam merespons dinamika sosial dan tantangan zaman.
Dengan landasan tauhid yang kokoh dan menjauhi segala bentuk syirik, Saad meyakini Muhammadiyah akan tetap konsisten mengembangkan dakwah dan amal usaha yang berorientasi pada pembaruan (tajdid) serta kemaslahatan umat.
Pengajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah menjadi forum strategis untuk memperkuat pemahaman ideologis dan teologis warga Persyarikatan, sekaligus meneguhkan kembali Akidah Islam Berkemajuan sebagai arah gerakan menghadapi perubahan global.