Abdul Mu’ti: Kesiapan Mental dan Iman Kunci Sukses Menjalankan Puasa Ramadan
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya kesiapan mental dan spiritual dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah. Hal tersebut disampaikannya dalam program Jendela Ramadan bertema “Kesiapan Mental Spiritual Puasa” yang disiarkan di tvMu, Jumat (20/2).
Dalam tausiyahnya, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa persiapan puasa tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyangkut kesiapan iman dan mental seorang Muslim. Ia menyebut, setidaknya terdapat tiga perspektif dalam menyiapkan diri menghadapi Ramadan.
“Terkait dengan penyiapan mental itu bisa kita lihat dalam tiga perspektif,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia memulai dengan menjelaskan perintah puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang diawali dengan seruan Ya ayyuhalladhina amanu atau “Wahai orang-orang yang beriman”.
“Al-Baqarah 183 dimulai dengan seruan Ya ayyuhalladhina amanu, Wahai orang-orang yang beriman,” katanya.
Menurutnya, seruan tersebut bukan sekadar panggilan biasa, melainkan bentuk perhatian khusus dari Allah kepada orang-orang beriman agar menyiapkan diri secara sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah puasa.
“Kalau kita mencoba mendekati penyebutan Ya ayyuhalladhina amanu dari sudut kesiapan berpuasa, kita oleh Allah diingatkan untuk menyiapkan diri kita dengan sepenuh iman menunaikan ibadah puasa,” jelasnya.
Abdul Mu’ti mengibaratkan panggilan tersebut seperti pengumuman kepada penumpang pesawat yang hendak berangkat menuju tujuan tertentu, yang dipanggil secara khusus agar bersiap.
“Ya ayyuhalladhina amanu bisa dimaknai sebagai privilege atau sebagai kehususan sehingga kita memberikan perhatian memiliki kesiapan,” ujarnya.
Perspektif kedua, lanjutnya, adalah kesiapan iman. Ia menekankan bahwa imanlah yang menjawab panggilan tersebut.
“Yang kita perlukan dalam konteks penyiapan puasa adalah kesiapan iman kita,” katanya.
Menurut Abdul Mu’ti, orang yang memiliki iman kuat akan menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan dan melakukan berbagai persiapan spiritual, seperti tarhib Ramadan dan memperbanyak puasa sunnah sebelum Ramadan.
“Mereka yang memiliki iman yang kuat menyambut puasa dengan gembira, sehingga mereka kemudian menyelenggarakan berbagai macam persiapan-persiapan spiritual dengan Tarheb Ramadan dan juga Riyadhah dengan menunaikan puasa-puasa sunnah sebelum pelaksanaan ibadah puasa Ramadan itu sendiri,” jelasnya.
Perspektif ketiga adalah kesiapan mental secara psikologis. Ia menegaskan bahwa mental readiness sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam menjalankan puasa.
“Secara psikologis dengan dipanggil itu ada mental readiness, ada kesiapan mental untuk kita menunaikan ibadah puasa,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa puasa bukanlah ibadah yang ringan karena umat Islam harus menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar hingga magrib, sembari tetap menjalankan aktivitas harian.
“Kita tidak boleh makan dan minum mulai dari Fajar sampai Maghrib, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang membatalkan puasa. Dan itu kita laksanakan dalam posisi yang normal dalam pengertian kita masih beraktivitas, masih bekerja sebagaimana biasa,” katanya.
Karena itu, niat menjadi fondasi utama dalam membangun kesiapan spiritual dan mental.
“Innamal akmalu bin niat. Yang sungguhnya semua perbuatan itu harus ditunaikan dengan niat,” tutur Abdul Mu’ti.
Ia menambahkan bahwa niat merupakan hasrat hati sekaligus kesiapan spiritual dan emosional dalam menjalankan ibadah.
“Yang niat itu merupakan intention, merupakan hasrat hati, kesiapan spiritual dan kesiapan emosional, kesiapan mental untuk kita menunaikan ibadah puasa,” ucapnya.
Di akhir penyampaiannya, Abdul Mu’ti berharap umat Islam memiliki kekuatan lahir dan batin dalam menjalankan ibadah Ramadan.
“Semoga kita memiliki kekuatan untuk menunaikan ibadah kita dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.