Abdul Mu’ti: Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar, tapi Menjaga Martabat Manusia
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa puasa Ramadan bukan hanya ibadah untuk membentuk ketakwaan, tetapi juga bagian dari syariat Islam yang memiliki tujuan besar dalam menjaga kehidupan manusia secara menyeluruh.
Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam program Jendela Ramadan bertema “Puasa sebagai Syariah” yang disiarkan di tvMu, Kamis (19/2).
Dalam pembukaannya, Abdul Mu’ti menyampaikan harapan agar ibadah puasa yang telah dijalankan umat Islam diterima oleh Allah SWT.
“Alhamdulillah kita telah menunaikan puasa pada hari yang pertama. Semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menjelaskan bahwa syariat yang diturunkan Allah SWT memiliki tujuan yang luas. Abdul Mu’ti mengutip pandangan Imam Al-Ghazali yang menyebut bahwa syariat Islam memiliki lima maksud atau tujuan utama.
“Kalau kita ikuti pendapatnya Imam Al-Ghazali, itu memiliki lima maksud atau lima tujuan. Yang pertama adalah khifduddin menjaga agama. Kemudian yang kedua khifdul-akal menjaga akal. Kemudian yang ketiga khifdun-nafs melindungi kehidupan. Kemudian yang keempat khifdun-nasal melindungi keturunan. Dan yang kelima khifdul-mal atau melindungi harta benda,” jelasnya.
Abdul Mu’ti menegaskan bahwa ibadah puasa memiliki kaitan erat dengan tujuan syariat tersebut. Menurutnya, puasa dapat menjadi sarana untuk menjaga dan melindungi agama dalam dua makna penting.
“Kalau kita kaitkan dengan ibadah puasa, maka paling tidak ibadah puasa itu kita tunaikan untuk menjaga, melindungi agama. Maknanya ada dua,” katanya.
Ia menjelaskan, makna pertama adalah puasa membantu umat Islam merawat keberagamaan dan menjaga konsistensi dalam menjalankan ajaran Islam.
“Yang pertama dengan kita berpuasa kita merawat keberagamaan kita. Kita konsisten sebagai umat Islam, sebagai kaum beriman, melaksanakan ajaran agama,” ucapnya.
Sementara makna kedua, puasa berperan dalam menjaga eksistensi agama Islam agar tetap terpelihara dan hidup dalam kehidupan masyarakat.
“Kemudian yang kedua dengan berpuasa itu kita menyelamatkan agama, melindungi agama. Dalam pengertian bahwa kalau kita melaksanakan ibadah puasa maka agama itu akan tetap terpelihara dan akan tetap eksis di muka bumi,” lanjut Abdul Mu’ti.
Ia menekankan bahwa puasa merupakan bentuk komitmen seorang Muslim dalam menegakkan syariat Islam.
“Sehingga karena itu kita disyariatkan untuk berpuasa agar sekali lagi kita konsisten dengan keyakinan kita, dengan komitmen kita sebagai seorang Muslim, menjaga, menegakkan syariat agama Islam,” ujarnya.
Selain menjaga agama, Abdul Mu’ti menuturkan bahwa puasa juga berfungsi melindungi akal manusia. Menurutnya, puasa memberi ruang bagi manusia untuk menjaga kewarasan dan kecerdasan dalam kehidupan.
“Kemudian yang kedua melindungi akal manusia. Dengan berpuasa kita ini diberikan oleh Allah kesempatan untuk menjaga kewarasan kita, menjaga kecerdasan kita,” katanya.
Abdul Mu’ti juga menjelaskan bahwa puasa berkaitan dengan perlindungan kehidupan. Puasa membentuk akhlak mulia yang tercermin dari sikap menjaga keselamatan diri, orang lain, hingga kelestarian alam.
“Dan kemudian melindungi kehidupan. Karena dengan kita berpuasa kita menjadi manusia yang berakhlak mulia. Dan di antara ciri manusia berakhlak mulia adalah mereka yang menjaga keselamatan dirinya, keselamatan orang yang lainnya, bahkan kemudian juga kelestarian alam semesta,” ujarnya.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa puasa juga menjadi bagian dari upaya menjaga keturunan, yakni dengan melindungi kehormatan diri dan keluarga.
“Yang keempat, melindungi keturunan. Dalam pengertian kita menjaga hereditas, menjaga agar kita ini senantiasa melindungi kehormatan kita, melindungi keluarga kita,” katanya.
Selain itu, puasa juga melatih manusia agar menjaga harta dan menjauhi tindakan mengambil sesuatu yang bukan haknya. Puasa, kata Abdul Mu’ti, mendorong umat Islam memperoleh rezeki dengan cara yang halal.
“Dan kemudian melindungi harta. Kita dengan berpuasa tentu berusaha menjaga diri kita agar tidak mengambil harta orang lain, agar tidak mengambil harta yang bukan hak kita. Kita semuanya memperoleh riski dengan cara yang halal, memperoleh riski dengan cara-cara yang dibenarkan oleh Allah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh tujuan syariat tersebut membentuk manusia dengan kemuliaan dan kehormatan yang telah diberikan Allah SWT.
“Puasa akan membentuk kepribadian manusia yang seperti yang diharapkan dengan tujuan syariat itu. Karena dengan puasa kita diharapkan tetap menjadi manusia dengan segala kemuliaannya, dengan segala kehormatannya yang diberikan oleh Allah kepada kita,” tuturnya.
Di akhir penyampaiannya, Abdul Mu’ti kembali mengajak umat Islam menjalankan puasa dengan penuh kesungguhan dan berharap ibadah tersebut diterima Allah SWT.
“Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga diterima oleh Allah SWT,” pungkasnya.