Abdul Mu’ti: Puasa Latih Konsistensi dan Daya Tahan di Tengah Budaya Serba Instan
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menegaskan bahwa puasa Ramadan melatih umat Islam menjadi pribadi yang sabar, konsisten, dan persisten di tengah budaya masyarakat yang serba instan.
Hal itu disampaikannya dalam program Jendela Ramadan bertema “Puasa dan Kesabaran II” yang disiarkan di tvMu, Rabu (25/2).
Dalam tausiyahnya, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa puasa memiliki hubungan erat dengan kesabaran, yang menjadi ciri utama orang bertakwa sekaligus kunci meraih keberhasilan hidup.
“Puasa memiliki hubungan yang sangat erat dengan kesabaran. Dan sabar itu adalah ciri orang bertakwa sekaligus juga kunci sukses untuk kita meraih keberhasilan dalam kehidupan kita,” ujarnya.
Ia menyoroti fenomena masyarakat modern yang menginginkan segala sesuatu serba cepat dan instan. Menurutnya, pola pikir instan sering kali mendorong seseorang menempuh jalan pintas, bahkan dengan cara yang bertentangan dengan nilai agama, hukum, dan kemanusiaan.
“Sekarang ini kita hidup di masyarakat yang ingin semuanya serba instan, ingin semuanya serba cepat,” katanya.
Dalam konteks puasa, Abdul Mu’ti mencontohkan bagaimana umat Islam dilatih menahan diri meski makanan yang tersedia halal dan diperoleh dengan cara yang benar.
“Ada makanan, semuanya makanan itu halal dan to’yiban, kita juga memperolehnya dengan cara yang halal, tapi karena belum waktunya kita berbuka, maka kita tidak makan. Ini butuh kesabaran, ini perlu sikap di mana kita bisa menahan diri,” jelasnya.
Menurutnya, banyak konflik dalam kehidupan terjadi karena ketidakmampuan menahan diri.
“Banyak permasalahan terjadi, pertengkaran, percekcokan, dan sebagainya, itu karena kita tidak bisa menahan diri,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kesabaran mengajarkan manusia untuk memahami proses. Keberhasilan tidak selalu datang secara instan, tetapi membutuhkan stamina mental dan spiritual.
“Sabar mengajari kita bahwa tidak semua hal itu bisa diraih dengan mudah dan cepat. Dia perlu stamina mental dan stamina spiritual,” katanya.
Sebagai ilustrasi, Abdul Mu’ti menyinggung pertandingan olahraga seperti futsal atau sepak bola, di mana kepanikan dan hilangnya kontrol karena tidak sabar justru berujung pada kekalahan.
“Tapi dengan kesabaran, dia yakin bahwa masih ada waktu, masih ada kesempatan, walaupun mungkin waktu dan kesempatan itu terbatas,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sabar melatih konsistensi dan persistensi dalam menjalani proses kehidupan.
“Sehingga sabar itu melatih kita untuk menjadi orang yang konsisten, bahkan juga persisten,” katanya.
Menurutnya, konsistensi adalah kesadaran untuk terus melakukan kebaikan meski hasilnya belum terlihat, sementara persistensi berarti tetap berpijak pada kebenaran dalam jangka panjang.
Ia juga mengutip ungkapan Jawa sebagai pengingat agar tidak tergesa-gesa dalam mencapai sesuatu.
“Ojo Ngege Mongso, artinya apa? Kalau sesuatu memang belum waktunya, ya sudah sabar saja, karena semua berproses,” tuturnya.
Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kesabaran berkaitan erat dengan proses menjadi pribadi yang lebih baik. Ia mengutip sebuah judul buku untuk memperkuat pesan tersebut.
“It is not how good you are, but how good you want to be. Ini bukan soal Anda sekarang sudah sebagus apa, sehebat apa, tapi soal niat Anda untuk senantiasa menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa setiap tahapan dalam mencapai cita-cita membutuhkan waktu dan komitmen berkelanjutan.
“Prosesnya butuh waktu, tapi bukan soal sekarang kita sudah sebagus apa, tapi soal kehendak baik yang ingin kita lakukan terus-menerus sampai kemudian kita meraih hasil sebagaimana yang kita harapkan,” pungkasnya.